Episode 007: Bagian 4
Sawerigading kini semakin betah di istana Tanete. Ia jarang menjenguk kamarnya, seolah menghindari kenangan akan We Cudai. Dalam suasana hening, ada satu hal yang terus mengusik hati Batara Lattu. "Sawerigading, lihatlah! Kita semua tahu, hubunganmu dan We Cudai makin rumit. Jangan sampai terjebak dalam dilema yang semakin menghimpitmu."
Keduanya duduk di tepi pantai, dengan suara ombak yang menghantam batu karang. "Ayah, aku mencoba bertahan," jawab Sawerigading. "Setiap hari aku menceritakan kisah hidupku untuknya, tetapi tetap saja ada celah yang dalam antara kami. Apa ia masih mencintaiku?"
Batara Lattu meraih pundak Sawerigading, "Cinta bukan hanya tentang mengingat masa lalu. Ini tentang menghadapi masa depan. Kau harus berani! Jangan biarkan keraguan menghancurkanmu."
Lalu, datanglah We Tenriabeng dengan wajah serius. "Kau tahu, Sawerigading? Gosip mulai bertiup. Iwe Cudai mendengar namamu diantara para pelayan. Katanya, kau hanya berjuang untuk mendapatkan hati We Cudai dengan cara yang salah!"
Sawerigading tertegun mendengar berita itu. "Apa? Itu semua salah paham! Aku hanya bertujuan untuk menyatukan kembali apa yang terpisah."
We Tenriabeng menggelengkan kepala, menambahkan, "Cinta dan kebanggaan bisa sangat merusak, terutama bagi kita. Ingatlah, posisi kita di mata mereka menjadi taruhannya."
Hatinya bergejolak. Dalam benaknya, Sawerigading merenungkan masa lalu, ketika ia masih berlayar menuju Ale Cina, menghadapi berbagai tantangan, pertempuran demi pertempuran. Semua bertujuan untuk haha itu semua menaklukkan calon istri, bukan sekadar untuk mengejar cinta.
Di saat yang sama, We Cudai, yang sempat mendengar obrolan itu, merasa perlu berbicara. "Sawerigading, betapa banyak air mata yang telah jatuh di antara kalian. Ini bukan hanya soal cinta; ini juga tentang tanggung jawab."
"Jadi, apa yang harus kulakukan?" jawab Sawerigading dengan nada putus asa. "Jika We Cudai terus menolak untuk berbicara denganku, bagaimana mungkin aku bisa memperbaiki semuanya?"
We Tenriabeng menganalisis kemungkinan rencana. "Mungkin kau perlu mengundang semua orang, lalu ubah suasana. Tunjukkan betapa tulus perasaanmu padanya. Lupakan semua keraguan dan cobalah berdiri di depan We Cudai dengan sepenuh hati."
Sawerigading mengangguk, berpikir bahwa langkah itu mungkin cara yang tepat. "Ya! Aku akan undang semua orang. Dan aku akan memulai semuanya dengan jujur, tanpa rasa takut."
Perairan di dekat pantai Tenete mengagumkan, dengan cahaya mentari yang bersinar cerah. Di sisi lain, We Cudai sedang menghadapi dilema yang sama. Ia benar-benar merindukan sosok Sawerigading, tetapi di saat yang bersamaan, takut akan perasaannya sendiri.
"Iwe, kau harus menghadapi apa yang ada di hatimu!" We Nyili' Timo berbicara lembut, pelan. "Ketakutanmu hanya akan menghancurkan segalanya. Jika kau mencintainya, bicaralah padanya."
We Cudai menatap sahabatnya. "Mengapa semuanya begitu rumit? Bagaimana jika aku terluka lagi? Bagaimana jika semua ini hanya ilusi belaka?"
We Nyili' Timo menjawab tegas, "Cinta adalah risiko. Kita tidak bisa menghitung apa yang akan terjadi di masa depan. Tetapi kita bisa memilih untuk berjuang untuk apa yang kita inginkan."
Dengan semangat baru yang mengalir dalam dirinya, We Cudai merasa tergerak untuk bertindak. Dia pun bertekad untuk hadir dalam momen khusus yang akan diadakan Sawerigading.
Lagi di tengah pergolakan perasaan ini, Datu Patoto'e merasakan ketegangan yang meningkat. "Sawerigading adalah harapanku. Dia harus tahu bahwa cintanya adalah harta yang lebih berharga dari apapun." Suaranya tegas dan dalam, mengingatkan takdir yang membawanya ke Boting Langi.
Sekarang saatnya untuk mengumpulkan semua keinginan hatinya. Sawerigading menyiapkan sebuah acara pertunjukan dan mengundang seluruh penduduk. "Inilah saatnya! Ini untuk kita semua!" teriaknya penuh semangat, dibalas oleh sorak-sorai dari penduduk.
Di pusat perhatian, Sawerigading berdiri menantang semua keraguan. "Aku ingin mempersembahkan kebangkitan cinta di antara kita!" Ia menarik napas dalam-dalam, bersiap untuk membuka hatinya.
Namun, detik-detik kemudian, saat betapa sulitnya mengungkapkan semua perasaannya, bayangan masa lalu dan pencarian jati dirinya menyelimuti pikirannya. Ia harus buktikan bahwa cinta ini ada dan ini adalah jalan kebenaran.
Di tengah khalayak ramai, dengan suara yang menembus kebisingan, ia memanggil, "We Cudai, aku ingin berjuang untuk cintamu! Jangan biarkan keraguan ini menghentikan kita!"
Semua mata terarah ke Iwe, napasnya tertahan. Terbayang semua perjuangan yang telah mereka jalani akan menemukan titik temu, jika bersedia saling mempercayai.
Dari belakang, keluhan gemuruh mengalir, mengingatkan akan badai yang akan datang. We Cudai paham, jika tidak melawan ketakutannya, kehilangan akan menghampiri.
"Siapkah kau?" dengan nada bergetar, Sawerigading menanti jawaban penuh harap. Dihujam oleh kebisingan perahu yang berlayar, dia tahu ini adalah momen yang akan mengubah segalanya.
"Ya, Sawerigading," jawab We Cudai tegas, menatap langsung ke mata Sawerigading. "Mari kita hadapi semuanya bersama. Tidak ada lagi keraguan, hanya keberanian!"
Suasana menggeliat, semua orang kagum menyaksikan perjalanan cinta yang melawan badai. Tanpa berjalan mundur, mereka berdua bersatu, siap menelusuri setiap inci masalah di depan, bersama-sama.
Dengan prosesi ini, harapan baru terlahir. Cinta mereka menjadi pembangkit bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk semua orang di sekitar mereka. Badai yang akan datang dipastikan tak akan menjadi halangan, melainkan saksi perjalanan cinta yang tak terpisahkan.
Kini, saatnya segala cerita dan harapan mengalir dalam satu kesatuan. Perjuangan ini baru saja dimulai-menuju masa depan yang belum terpantau, namun irama hatinya bersatu, menjadi satu lirik dalam simfoni keabadian.