Episode 013: La Toge Langiq
Di kerajaan Langit, Datu Patoto'e melangkah penuh tekad menuju istana istrinya, Datu Palinge'. Sambil menyusuri lorong-lorong berlapis emas, ia merenungkan keputusan berat yang harus diambil. "Adinda, aku datang bukan untuk sekadar berkunjung," ucapnya serius. Datu Palinge' menatap suaminya dengan cemas. "Ada apa, Kakanda? Ramalan penghuni bumi semakin menghimpitkan hati kita."
Patoto'e menghela napas. "Kondisi bumi saat ini kosong dan tanpa makna. Kita harus mengirimkan seorang pemimpin." Datu Palinge' terdiam, merasakan betapa beratnya keputusan ini. "Siapa yang kau pilih?" tanyanya lirih.
"Putraku, La Togeq Langi'," jawab Datu Patoto'e dengan percaya diri. Seketika, air mata membasahi pipi Datu Palinge'. "Latogelangi? Mengapa bukan yang lain?"
"Dia adalah harapan kita untuk bumi," jawab Patoto'e, meraih tangan istrinya. "Aku tahu ini berat, tapi dia yang terbaik." Datu Palinge' menggenggam tangan Patoto'e. "Sang Datu Patoto'e, aku bahagia dia dipilih, namun kesepian di bumi akan menyiksanya."
"Mari kita jodohkan dia dengan Sinau Toja dari kerajaan Pertiwi. Dengan begitu, dia tidak akan sendirian," usul Datu Patoto'e. Datu Palinge' mengangguk, air matanya kini berganti bahagia. "Sampaikan undangan ini secepatnya."
Di hulu kerajaan, Rukeling Poba dan Mak Ompong dipanggil. "Kalian harus ke kerajaan Pertiwi untuk membawa undangan," perintah Patoto'e. Keduanya tersentak, segera menyambut tugas itu. "Kami akan berangkat sekarang, Sang Datu Patoto'e," kata Rukeling dengan semangat. "Tapi bagaimana jika kami disalahpahami?" tanya Mak Ompong cemas.
"Bawa pesan ini dengan hati-hati. Jangan sampai ada yang tersakiti," ujar Patoto'e tegas. "Dan ingat, kalian harus kembali sampaikan kabar baik."
Sambil melangkah, Rukeling berbisik kepada Mak Ompong, "Andaikan kita jadi seperti Latogelangi dan menjadi penguasa di bumi." Habis berkata, mereka tertawa. "Tapi kita tidak bisa, kita hanya akan jadi Oro!" jawab Mak Ompong, menggelengkan kepala.
Saat melintasi langit, tiba-tiba cuaca berubah. Angin kencang dan kilat menyambar mengingatkan mereka akan tugas yang belum selesai. "Cepat! Kita harus pergi!" seru Mak Ompong, dan keduanya bergegas menuju kerajaan Pertiwi dengan hati berdebar.
Ketegangan menguat di ruang rapat kerajaan Pertiwi. Apakah Sinau Toja dan guru Resellect akan menerima tawaran perjodohan ini? Keduanya tidak menduga bahwa langkah ini akan mengubah tatanan di bumi selamanya. Dengan kearifan Patoto'e, harapan baru kini tersemai di antara dua dunia.