Episode 016: Buaya Penolong Batara Guru
Batara Guru berjalan menyusuri hamparan hutan yang rindang, sejuk di sekelilingnya, namun hatinya dipenuhi kesepian. "Seharusnya, ini adalah tempat yang penuh kehidupan," keluhnya dalam hati. Suara burung dan gemercik air tak mampu mengusir rasa寂しい yang menjalar di jiwanya. Di sisi lain, di kerajaan Langit, adik-adiknya, We Tenriabeng dan Batara Lattu, mengawasi dari jauh, dengan mata penuh air mata.
"Kenapa kita tidak bisa ikut menemaninya?" tanya We Tenriabeng, suaranya terisak. "Rindu padanya membuatku gila, Lattu!"
Batara Lattu mengelus bahu saudarinya, "Ini jalan yang harus dilaluinya. Patoto'e ingin ia belajar mandiri." Tekanan itu terasa berat, bukan hanya di pundak Batara Guru, tetapi juga di hati mereka.
Sementara itu, Batara Guru melanjutkan pencarian makanan dari hutan. Dengan segenap tenaga, ia berhasil memperoleh beberapa umbi dan buah liar. "Bisa jadi ini akan cukup," gumamnya sambil mengunyah, meski rasa kenyang tak kunjung datang. Dalam hatinya, ia teringat akan kehidupan di Langit, jauh dari kesepian ini.
Di suatu sore, saat matanya menyusuri batas langit yang jingga, dia berniat untuk meneguk air di sungai terdekat. Namun, kehadiran sosok yang tak terduga membuatnya terhenti. Sebuah buaya berbaju kuning muncul dari permukaan air, menjejakkan kaki di tepi sungai.
"Wahai Batara Guru, penguasa bumi, saya tahu rasa sepi yang kau alami," sapa buaya dengan takzim. "Izinkan saya mengantar Anda ke kerajaan Pertiwi. Di sana, Anda bisa menemukan teman."
Batara Guru terkejut, "Kau tahu isi hatiku?" tanyanya berusaha mengontrol nada suara. "Tapi, aku masih punya tanggung jawab di sini."
"Benar, tetapi tidakkah kau ingin mengetahui calon permaisurimu? Mungkin, dia adalah kunci untuk mengisi kekosongan hatimu," buaya itu membujuk.
"Saya ingin sekali bertemu mereka, tapi tugas di bumi ini harus diutamakan," jawab Batara Guru dengan tegas.
Buaya itu mendekat, "Jangan khawatir, Batara Guru. Saya dapat menggantikan tugasmu sementara waktu." Ekspresi Batara Guru menunjukkan kebingungan, tapi larangan dari Patoto'e tak bisa diabaikannya.
Akhirnya, dia memutuskan. "Baiklah, jika kau bisa menjaga bumi ini selama aku pergi, aku akan ikut," ujarnya ragu-ragu tetapi terbawa oleh rasa ingin tahunya.
Tak lama kemudian, Batara Guru menaiki punggung buaya tersebut. Sekejap mata mereka telah sampai di kerajaan Pertiwi, di mana keindahan alamnya memukau Batara Guru. "Sungguh menakjubkan," ucapnya kagum melihat keindahan laut yang dipenuhi kehidupan.
Namun, saat menyaksikan permaisuri-permaisuri yang ada, Batara Guru mendapati mereka berwajah sedikit berbeda dengan yang ada di Langit. "Mereka mungkin tidak secantik yang aku bayangkan," pikirnya.
Sementara itu, salah satu sepupunya secara kebetulan membuka jendela, melihat Batara Guru dan bergegas menginformasikan We Tenriabeng.
"Aku harus ke istana, ada sesuatu yang penting!" ucap We Tenriabeng dengan panik. Dan tanpa disadari oleh Buaya, pertemuan ini akan membawa Batara Guru menuju petualangan yang lebih dalam.