Episode 021: Asal Usul Padi Dan Penjelmaan Anak Batara Guru
Dalam kesedihan Abadi, Batara Guru tertegun di depan makam anaknya, We Odangdriuk, yang kini diselimuti tanaman padi yang tumbuh lebat. "Mengapa tanaman ini bisa tumbuh di sini?" gerutunya sembari membelai padi yang berkilau.
"Sepertinya ada keajaiban yang terjadi," kata We Nyili' Timo yang berdiri di sampingnya, penuh rasa ingin tahu.
"Tapi ini tidak mungkin! Mengapa padi ini bisa tumbuh di tempat yang menyedihkan ini?" ujar Batara Guru dengan penuh kebingungan.
Mendadak, hujan rintik jatuh dan pelangi muncul di langit. Batara Guru teringat kekuatannya, "Aku harus mencoba meraih pelangi ini!". Dengan satu lompatan, ia melesat ke arah pelangi dan berhasil mencapai dunia langit. Namun, di gerbang istana, ia dihadang oleh penjaga.
"Maaf, Tuan. Meskipun Anda adalah anak kesayangan Patoto'e, Anda tidak bisa masuk tanpa izin," kata seorang penjaga dengan nada tegas.
Batara Guru, menyadari statusnya sebagai manusia, hanya bisa mengangguk. Tak lama kemudian, suara Patoto'e memanggilnya. "Masuklah, anakku."
Dengan hati berdebar, Batara Guru melangkah memasuki istana. "Aku tak percaya bisa kembali," gumamnya. Begitu bertemu dengan Patoto'e, ia sujud hormat.
"Batara Guru, mengapa kau datang?" tanya Patoto'e.
"Aku ingin bertanya tentang padi ini... dan anakku yang hilang," jawabnya singkat, suara bergetar.
"Anakmu, We Odangdriuk, adalah Sanghyang Seri, Dewi Padi. Ia kini menjelma menjadi padi yang akan menjadi makanan bagi manusia," jelas Patoto'e.
"Jadi, aku harus merawat padi ini dengan baik?" tanya Batara Guru.
"Benar. Jaga padi ini dari hama. Jangan menyia-nyiakan, jika tidak, akan ada konsekuensinya."
Batara Guru mengangguk. "Aku akan melakukan apa pun untuk menjaga kehormatan anakku."
Setelah kembali ke bumi, Batara Guru teringat larangan Patoto'e untuk tidak kembali ke langit. Melihat pelangi hilang, ia merasa terasing. "Apakah aku selamanya terpisah dari orangtuaku?" batinnya.
Di tanah, ia memeriksa tanaman padi. "Aku harus memposisikan tanaman ini dengan benar. Mereka harus tumbuh dengan baik," katanya kepada para pengawalnya. "Lakukan dengan hati-hati!"
Batara Guru merasa beban yang tejadi di pundaknya. Melihat padi yang melimpah, ia bertekad merawatnya dengan sepenuh hati, berharap suatu hari ia dapat bertemu We Odangdriuk kembali, dalam bentuk yang lain.
"Selama padi ini tumbuh, harapan masih ada," ucapnya dengan penuh keyakinan, meskipun hatinya terpaut pada langit di atas.