Episode 022: Putera Mahkota Dan Anak-anak Batara Guru

Story DNA

Genre
folk tale
Tone
hopeful
Themes
hope and renewal, legacy and succession, divine intervention, love and partnership
Plot Summary
After losing their child, Batara Guru and We Nyili' Timo find renewed hope in a bountiful rice harvest. While concubines bear children, Batara Guru secretly yearns for a crown prince from his queen, We Nyili' Timo, who shares his anxiety. In the Sky Kingdom, deities discuss the urgent need for this crown prince. The story concludes with Batara Guru and We Nyili' Timo reaffirming their love and hope, believing their destined child will eventually arrive.

Episode 022: Putera Mahkota Dan Anak-anak Batara Guru

Di tengah istana yang dipenuhi harapan baru, Batara Guru dan We Nyili' Timo perlahan bangkit dari kesedihan akibat kehilangan We Odangdriuk. Keduanya mulai merayakan kehidupan baru, terutama setelah tanaman padi yang subur menjadi sumber harapan bagi masyarakat kerajaan.

"Setidaknya, padi ini menjadi saksi akan harapan yang baru," ujar Batara Guru, menatap tanaman yang melimpah. "Aku percaya, makanan ini akan menjadikan kita kuat."

We Nyili' Timo tersenyum. "Dan mungkin, akan membawa kita anak lagi."

Tak berselang lama, kabar bahagia datang dari salah satu selir, We Penderita Lunruk. "Aku hamil!" teriaknya penuh semangat. Berita ini disambut dengan sorak-sorai seluruh penghuni istana. Kegembiraan menjalar di antara mereka ketika Batara Guru melihat kebahagiaan di wajah para selirnya.

"Syukurlah, harapan kita akan terus berlanjut," Batara Guru berucap sambil memeluk We Penderita Lunruk. "Semoga anak itu membawa kebahagiaan bagi kerajaan."

Seiring dengan waktu, kelahiran demi kelahiran terjadi. "Lihat, aku memiliki anak lagi, Lafadz!" teriak We Penderita Lunruk ketika buah hatinya lahir.

"Namanya bulan yang baru," Batara Guru menambahkan dengan bangga. Namun, di sudut pikirannya, kegelisahan tetap bersarang. "Tapi aku ingin sekali memiliki putra mahkota dari We Nyili' Timo."

Suatu malam, ketika We Nyili' Timo duduk termenung, Batara Guru mendekat. "Mengapa kau tampak cemas, istriku?" tanyanya lembut.

"Aku khawatir, jika anak-anak lainnya lahir, apakah putra mahkota kita akan datang?" jawab We Nyili' Timo.

"Jangan giat berpikir. Dari kita berdua saja lahir harapan," Batara Guru menenangkan. "Anak kita adalah yang paling berharga."

Di istana Kerajaan Langit, Datu Palinge' menemui Datu Patoto'e. "Kami membutuhkan putra mahkota segera," pintanya.

Datu Patoto'e tersenyum. "Tenang, anakku. Dia akan lahir. Kita akan mempersembahkan upacara untuk menyambutnya."

Keesokan harinya, Batara Guru dan We Nyili' Timo memperbarui harapan mereka, bergandeng tangan menuju kebun padi. "Inilah saatnya untuk merayakan," ucap Batara Guru.

Dengan getaran romantis di antara mereka, keduanya kembali merasakan cinta yang mendalam, mengingatkan kembali pada momen-momen indah di masa lalu. "Bersamamu, aku merasa seolah kita baru jatuh cinta lagi," Batara Guru menggenggam tangan We Nyili' Timo erat.

"Jadi, kita harus terus berdoa," balasnya. "Agar putra mahkota kita segera menampakkan diri."

Keduanya tersenyum dan merasakan harapan yang sama, saat mereka menatap langit yang cerah. Momen sederhana ini membawa kembali semangat mereka, dan mereka tahu, perjalanan menanti mengawali sesuatu yang lebih besar belumlah berakhir.

Tokoh dalam Episode Ini

Batara Guru (protagonist) We Nyili' Timo (protagonist) We Penderita Lunruk (supporting) Datu Palinge' (minor) Datu Patoto'e (minor)