Episode 033: Ale Luwu Dan Ketakutan Singking Wero
Perahu Tanete Manurung merapat di pelabuhan kerajaan Tompotikka dengan megah. Para awak kapal segera melompat ke darat, bergegas menuju sungai untuk membersihkan diri setelah berbulan-bulan di laut. Batara Lattu, yang memimpin pelayaran, menyapa dengan senyuman, "Kita telah sampai. Kerajaan ini akan menjadi langkah pertama kita."
Batara Guru, yang mengawasi dari kejauhan, berbisik kepada We Nyili' Timo, "Kita harus berwaspada. Lihat betapa kosongnya istana itu."
Batara Lattu, tidak menyadari aura kehampaan yang menyelubungi tempat tersebut, mengarahkan perhatian pada saudara tirinya, La Togeq Langi'. "Persiapkan strategi kita. Aku ingin kita menjelajahi istana Tompotikka dan mencari tahu apa yang telah terjadi."
La Togeq Langi' mengangguk serius. "Mayat bisu tidak akan menyambut kita dengan baik. Kita harus tahu siapa yang mengendalikan kerajaan ini sekarang."
Sementara itu, di istana Singking Wero, La Hendri Giling menerima laporan dari bawahannya. "Bagaimana situasi di Tompotikka?" tanyanya was-was.
"Berdasarkan informasi, istana hampir tidak berpenghuni, kecuali satu pengasuh bernama We Temmala," jawab bawahannya.
"Hmm, tapi kenapa kita merasa ada sesuatu yang lebih besar di balik semua ini?" La Hendri Giling menggigit bibir. "Panggil Puang Matoa segera. Kita butuh prediksi masa depan."
Dalam perjalanan menuju Tompotikka, Lapangan Horison, saudara tiri Batara Lattu, mengintip lebih dalam. "Kami mencari kedamaian, bukan konflik," ucapnya kepada nelayan yang ditemui di jalan.
Nelayan tersebut memperingatkan, "Istana kosong, tapi jangan anggap enteng penjaga Singking Wero. Mereka bisa menyerang kapan saja."
Lapangan Horison menyelipkan sekarung beras di tangan nelayan sambil tersenyum. "Terima kasih atas peringatannya."
Setibanya di istana, ia menyelinap melalui penjagaan. Ketika dirinya melihat dua gadis cantik di dekat jendela, hatinya berdebar. "Mereka pasti Putri Tompotikka," bisiknya dalam hati.
Kembali ke istana Singking Wero, La Hendri Giling mendesak Puang Matoa untuk meramal masa depan Tompotikka. Jawaban Puang Matoa benar-benar mengguncangnya. "Putra mahkota Ale Luwu akan menikahi salah satu putri dari kerajaan Tompotikka," ucap Puang Matoa dengan tegas.
La Hendri Giling terperanjat, "Ini bisa menjadi bencana. Kita harus segera ambil tindakan."
Bersamaan dengan itu, We Temmala dan putri-putri Tompotikka merasakan kehadiran Batara Lattu yang kuat. Namun, ancaman dari Singking Wero semakin mendekat.
"Waktu tidak berpihak pada kita," seru We Temmala, "Apa yang akan kita lakukan?"
Dengan ketegangan melanda, semua pihak di kerajaan bersiap-siap menghadapi situasi yang bisa berubah kapan saja. Konflik ini semakin menegangkan, dan semua pertanyaan berdengung di setiap pikiran. Apakah kekuatan Ale Luwu akan mengubah nasib Tompotikka, atau malah mengarah pada bencana baru?