Episode 037: Batara Lattu Dan We Datu Sengeng
Pagi itu, suasana di istana Tompotikka dipenuhi dengan rasa bahagia dan semangat. Batara Lattu tersenyum, matanya bersinar seakan tak sabar menantikan hari besar dalam hidupnya. "Besok aku akan menjalani hidup bersamamu, We Datu," bisiknya penuh rasa syukur.
Di sisi lain, We Datu Sengeng pun tak kalah bersemangat. "Aku merasa gelisah, Batara. Persiapan ini semua membuatku berdebar," ungkapnya sambil merapikan gaun pengantin yang dikenakannya. "Apakah aku sudah pantas menjadi permaisurimu?"
Batara Lattu menanggapi, "Kamu lebih dari sekadar pantas. Kamu adalah bintang di langit yang menyinari jalanku. Segala persiapan ini akan berujung pada cinta kita yang abadi."
Seiring hari beranjak siang, suasana semakin meriah dengan para bawahannya yang sibuk menyiapkan tari-tarian. Uang Matoa, yang memimpin para penari, berseru, "Siapkan langkah kalian! Hari ini kita tidak hanya merayakan pernikahan, tetapi juga menyatukan dua kerajaan!"
Saat Batara Lattu memasuki ruang upacara, suara tepuk tangan dari para hadirin menggema. We Datu Sengeng menunggunya di pelaminan, kecantikannya terpancar dari pakaian dan perhiasan yang dikenakannya. "Batara, kau hadir seperti dalam mimpiku," katanya, rahangnya bergetar karena bahagia.
Batara Lattu mengangguk, "Kita akan mengukuhkan cinta kita di hadapan semua orang, We Datu." Upacara dimulai dengan ritual dan pantun yang mengiris hati. Seorang bangsawan berdiri dan mengucapkan sajak, "Cinta ini seperti ladang yang subur meski tak dijaga, selalu melimpah tanpa pernah kehabisan."
Keduanya bertukar janji sambil dikelilingi sorak-sorai dan tawa. Ketika ijab kabul akhirnya terucap, seluruh hadirin bersorak penuh semangat. "Selamat! Cinta kalian telah terikat!" teriak Uang Matoa.
Sebagai tanda syukur, Batara Lattu dan We Datu Sengeng berpindah ke tempat makan bersama, membagikan makanan kepada semua tamu. "Kita harus berbagi kebahagiaan ini," kata Batara Lattu, mengedarkan nampan berisikan makanan lezat.
"Mereka semua menunggu kita," sahut We Datu Sengeng, sembari tersenyum. Namun, dia tampak malu saat Batara Lattu berusaha mengajaknya bersenda gurau.
Batara Lattu, melihat sikap malu-malu istrinya, merasa semakin tertarik. "Kau harus mencoba makanan ini! Aku tidak punya cara lain selain membuatmu tersenyum," ujarnya dengan nada menggoda.
Senyum tulus We Datu adalah jawaban terbaik. Batara Lattu merasa aman dalam pelukannya, "Apa yang lebih baik dari ini?"
Sementara itu, dalam bilik setelah perayaan, Batara Lattu terus menghibur istrinya yang masih malu, "We Datu, tataplah aku. Kita adalah pasangan. Mari kita terima segala penyatuan ini dengan cinta kasih."
Akhirnya, setelah berulangkali menghibur, We Datu Sengeng menatap suaminya dengan mata penuh air mata bahagia. "Aku siap, Batara. Mari kita selami cinta ini bersama," ucapnya lembut.
Momen itu menandai awal perjalanan baru mereka, penuh harapan dan tantangan yang akan dilalui berdua.