Episode 038: Batara Lattu Pernikahan We Adiluwuk Dan Kehancuran Singking Wero
Di istana Ale Luwu, keheningan melanda ketika Batara Guru dan We Nyili' Timo merasakan kerinduan yang mendalam terhadap Batara Lattu. "Setahun sudah berlalu, sepertinya waktu menghukum kita tanpa keberadaan anak kita," ucap We Nyili' Timo sambil meneteskan air mata. Batara Guru menepuk bahunya, "Dia akan pulang, Timo. Kita perlu melakukan sesuatu agar rasa ini tak semakin menyiksa."
Dengan tegas, Batara Guru memanggil bajeng Tangkiling. "Kau harus pergi ke Tompotikka. Panggil Batara Ratu untuk kembali bersama permaisurinya," instruksinya. Bajeng Tangkiling mengangguk, siap mengemban tugas yang berat.
Di Tompotikka, Batara Ratu dan We Datu Sengeng berbincang mengenai rindu mereka terhadap Batara Lattu. "Aku juga merasa sepi, Kak. Kapan kita bisa bertemu lagi?" tanya We Datu Sengeng, matanya berkaca-kaca. Batara Ratu membalas, "Segera. Dia berjanji akan membawa kita pulang ke Ale Luwu."
Bajeng Tangkiling tiba, langsung menyampaikan pesan dari Batara Guru. "Kami berharap dapat melihat kalian kembali. Kerinduan ini tak tertahankan," ucapnya. Batara Ratu menengadah, "Kami akan segera kembali. Siapa yang tahu, mungkin ada keajaiban menanti."
Melihat kegembiraan di wajah We Datu Sengeng, Batara Ratu merasakan kesedihan atas perpisahan yang akan datang. "Kami harus siap. Aku harus menjaga harga diri kita sebagai Putri Tompotikka," katanya tegas. Batara Ratu menambahkan, "Dan aku akan memastikan kita terus bersatu, meskipun ada tantangan."
Suasana mencekam mulai muncul ketika Batara Lattu menyadari bahwa We Datu Sengeng membutuhkan pasangan di Ale Luwu. Ia berkata, "Jika aku pulang nanti, aku harus mencari jodoh untukmu. Tidak ada yang lebih baik dari melihatmu bahagia."
Tak lama kemudian, Batara Ratu terbangun dari mimpi yang mengisahkan pernikahan yang akan datang. "Kita harus mulai merencanakan segalanya! Mimpi ini adalah pesan dari langit," serunya, membuat We Tenriabeng setuju. "Mari kita bersiap-siap untuk acara ini!"
Namun, di balik kebahagiaan, muncul ancaman dari Sinking Wero yang mengancam kerajaan Tompotikka. "Mereka berani melawan kita? Tidak boleh tersisa jejak kebodohan," ujar Batara Ratu dengan semangat.
Seiring waktu berjalan, Batara Lattu tiba di Ale Luwu dan mempersiapkan segalanya. Namun, sebelum pernikahan dilangsungkan, konflik dengan Sinking Wero semakin memuncak. "Kita tak bisa terus menunggu. Kami perlu tindakan," kata We Datu Sengeng berapi-api, menanti kebijakan yang diambil Batara Lattu.
Hari pernikahan tiba, namun ketegangan masih terasa di antara mereka. Ketika ijab kabul hampir dimulai, tiba-tiba Ila Jerio pingsan! "Ayo, cepat! Kita harus membangunkannya," seru Batara Lattu, yang segera mengatur ritus. Dan ketika kesadaran kembali, pernikahan dapat dilanjutkan dengan haru dan bahagia.
"Dengan cinta ini, kita akan mengalahkan segala perbedaan yang ada," ucap bati Batara Lattu menenangkan semuanya. Namun, mereka semua harus siap menghadapi tantangan Sinking Wero di hari-hari mendatang.