Episode 043: Sawerigading Dan Misi Ke Ale Cina
Di istana Ale Luwu, Sawerigading mengumpulkan para pembesar. "Aku berencana melamar We Tenriabeng," katanya tegas. Ruang rapat langsung dipenuhi suara gaduh. Seorang penasihat istana segera berdiri, "Paduka, pernikahan sedarah adalah larangan yang tegas dari Datu Patoto'e!"
Sawerigading menatapnya tajam. "Kau ingin menghalangiku? Aku tak peduli dengan status bangsawan, aku ingin menikahinya."
Penasihat itu berusaha menenangkan, "Paduka, kami diingatkan agar kalian dibesarkan terpisah. Jika memaksakan pernikahan ini, Ale Luwu dapat terkutuk."
Dengan marah, Sawerigading berteriak, "Tutupi mulutmu! Semua yang kau katakan adalah kebohongan!" Tanpa ragu, ia menarik pedangnya dan melukai penasihat tersebut hingga tewas.
"Sawerigading, tenangkan dirimu!" teriak La Togeq Langi', berusaha meraih perhatian. "Ini bukan jalan keluar. Kita perlu strategi, bukan kekerasan."
Namun Sawerigading sudah terlanjur memutuskan. Ia berbalik, meninggalkan ruangan dengan niat yang semakin kuat. "Aku harus menemukan We Tenriabeng," gumamnya.
Di istana lain, We Tenriabeng merenungkan perasaannya. "Jika aku jatuh cinta padanya, apa yang akan terjadi?" pikirnya, merasakan hatinya bergetar. Namun, ia ingat bahwa mereka terikat oleh darah.
Beberapa saat kemudian, berita tentang kemarahan Sawerigading sampai ke telinga We Tenriabeng. "Kita harus menghadapinya," katanya kepada pengawalnya. "Jika ia berani melamar, mungkin ada cara untuk menghentikannya."
Dengan cepat, We Tenriabeng mengirimkan utusan. "Bawakan bukti kepadanya bahwa kita adalah saudara kembar!" Desakannya mengalir dalam ketegangan, merasa bahwa situasinya semakin rumit.
Utusan itu segera mencapai Sawerigading dan memberikan gelang serta sehelai rambut We Tenriabeng. "Dengan ini, jelas bahwa ia adalah saudaramu," ungkap utusan dengan nada tegas.
Menatap barang bukti itu, Sawerigading merasakan kehampaan. "Jadi, ini semua benar," ucapnya dengan suara lembut. Dalam sekejap, marahnya lenyap, digantikan rasa tertekan dan bersalah.
"Saya minta maaf kepada semua," katanya tulus. Keputusannya untuk melamar kini sirna. "Harus ada jalan lain."
Belum usai, utusan itu juga membawa pesan dari We Tenriabeng. "Jika kau benar-benar ingin menikah, menikahlah dengan We Cudai. Dia adalah sepupumu, dan kita semua tahu dia juga cantik."
Mendengar itu, wajah Sawerigading kembali berbinar. "We Cudai? Kenapa tidak!" Matanya bersinar dengan harapan baru. "Aku akan berlayar ke Ale Cina dan meminangnya!"
Ia merencanakan perjalanan dengan semangat baru. "Persiapkan kapal kita! Kita berangkat segera!" teriaknya kepada para pengawalnya.
Dengan niat kuat, Sawerigading bersiap untuk menjalani petualangan baru dalam mencari cinta sejatinya.