Episode 044: Sumpah Dan Harga Diri Sawerigading
Sawerigading berdiri di tengah ruangan yang dipenuhi para pembesar istana. Ia merangkum keberaniannya dan, dengan suara tegas, berkata, "Aku ingin pergi ke Ale Cina. Namun, aku juga harus menebus dosa yang pernah kuperbuat."
Datu Patoto'e, ayahnya, menatapnya tajam. "Nak, setiap tindakan memiliki konsekuensi. Mengapa kau ingin tinggalkan takhta?"
"Demi cinta, Ayah," jawab Sawerigading dengan mantap. "Aku tak akan kembali ke Ale Luwu. Kini saatnya bagi para pembesar memimpin dengan kolektif, tanpa campur tanganku."
We Nyili' Timo, ibunya, menyeka air mata, "Sawerigading, ini keputusan yang berat. Pertimbangkan kembali."
"Biarkan aku pergi. Hanya dengan demikian aku bisa menjalin hidupku sendiri, terpisah dari beban ini," ujarnya sambil menatap We Tenriabeng yang berdiri di belakangnya.
"Saya paham. Ini tentang cinta yang tak bisa kita sembunyikan," We Tenriabeng berbisik, matanya penuh harap.
Sawerigading kemudian melanjutkan, "Aku bersumpah untuk tidak menginjakkan kaki di Ale Luwu lagi. Keturunanku yang akan menggantikan posisiku, jika ada."
Para pembesar mulai menangis mendengar keputusan anak muda yang penuh tekad ini. "Tuan Muda, jangan laksanakan sumpah ini. Kami memerlukanmu di sini!" seru salah satu pembesar, air mata mengalir di pipinya.
Seketika, suasana hening menyelimuti ruangan, hanya terdengar desiran angin. Saat itu juga, gemuruh petir menyambar. Para pembesar terkejut dan menatap ke arah langit. "Ada sesuatu yang datang," La Togeq Langi' berseru.
Dalam keheningan, tampak sosok dua orang yang turun dari langit. Mereka adalah Batara Ratu dan We Datu Sengeng, yang kembali dari kerajaan langit. Sawerigading tertegun, belum pernah ia melihat wajah orangtuanya sebelumnya. Ia segera merendahkan tubuh dan bersujud.
Batara Ratu berbicara, "Anakku, berkat sumpahmu, kami diturunkan untuk menyaksikan keputusan ini. Berhati-hatilah di perjalananmu ke Ale Cina."
We Tenriabeng berdesah pelan, "Apa ini berkah atau kutukan?" sambil memandang Sawerigading.
Sawerigading hanya bisa terdiam, hatinya bergejolak. "Kembali pada tugasmu, anakku. Kami percaya pada keputusanmu," sambung Batara Ratu, meninggalkan kesan yang mendalam di antara mereka.
Melihat keraguan di wajah Sawerigading, We Tenriabeng mendekat. "Apa yang kau rasakan, Sawerigading?" tanyanya perlahan.
"Saya mencintaimu, tetapi dunia kita berbeda. Aku harus pergi, meskipun itu menyakitkan," jawab Sawerigading dengan suara parau.
Dengan satu langkah maju, We Tenriabeng menggenggam tangan Sawerigading. "Apapun yang terjadi, ingatlah, aku akan selalu menunggumu."
Perasaaan campur aduk menggelayuti keduanya. meniati langkah yang penuh ketidakpastian di depan mereka.