Episode 045: Sawerigading Dan Tangisan We Tenriabeng

Story DNA

Genre
legend
Tone
melancholic
Themes
duty vs. emotion, sacrifice for the future, departure and destiny
Plot Summary
In Ale Luwu, Sawerigading prepares for a journey to Ale Cina, while his family also prepares to depart for the sky kingdom. Overcome with sadness at the thought of leaving his parents, Sawerigading hesitates, but his sister We Tenriabeng and La Togeq Langi' encourage him to fulfill his destiny. After a tearful farewell and a promise to restore peace, Sawerigading boards his ship. As he sails away, he sends a messenger bird back to his parents, finally shouting a resolute goodbye to his homeland amidst the falling rain.

Episode 045: Sawerigading Dan Tangisan We Tenriabeng

Hari-hari di Ale Luwu dipenuhi kesedihan. Rakyat merasakan kehilangan besar, terutama ketika Batara Ratu, We Datu Sengeng, dan We Tenriabeng bersiap melakukan perjalanan ke kerajaan langit. Sawerigading, yang akan berlayar ke Ale Cina, sudah tidak asing dengan kesedihan ini. "Ini adalah saat-saat terakhirku di negeri ini," pikirnya sambil menatap pelabuhan.

Setiap detail telah disiapkan. "Kapal Walen Renge sudah siap! Segera bisa berlayar!" teriak salah satu awak kapal. Namun, saat ia melihat orangtuanya, hati Sawerigading tertegun. "Aku tak bisa, Ibu, Ayah," suara Sawerigading bergetar.

We Tenriabeng mendekat, "Sawerigading, pergi lah. Ini untuk masa depan kita." Dia tahu betapa sulitnya bagi saudaranya. "Kamu harus mengambil langkah ini," sambungnya, berusaha menguatkan.

Air mata Sawerigading tak bisa tertahan. "Inilah kali pertama aku merasakan perpisahan yang begitu menyakitkan," ucapnya dengan hati penuh kesedihan. Batara Lattu dan We Nyili' Timo hanya bisa menatap, penuh harapan dan duka.

"Berlayarlah, nak. Ini adalah jalanmu untuk mewarisi masa depan," La Togeq Langi' memberikan dukungan sambil menepuk bahu Sawerigading. "Kami akan mendukungmu di segala langkah," tambahnya.

"Saya akan berlayar dan mengingat semua yang telah kau ajarkan!" Sawerigading menjawab, menyeka air matanya. "Aku berjanji akan mengembalikan kedamaian ke Luwu."

Setelah melakukan ritual adat, Sawerigading menaiki perahunya dengan tegak. "Siapkan layar! Kita berlayar!" perintahnya dengan suara mantap. Lautan di depan ternampak tenang, seolah merestui perjalanan ini.

Namun, saat semua bersiap berangkat, Sawerigading teringat pesan yang harus disampaikan kepada orangtuanya. Ia meraih burung pembawa pesan, "Kembali ke istana! Pastikan mereka sudah siap!"

Burung itu segera terbang, meninggalkan Sawerigading dalam kesunyian penuh perasaan. Jarak antara perahunya dan daratan semakin jauh, namun pandangannya tetap terfokus ke belakang. Sejenak, lautan hitam mulai meneteskan hujan, seperti mewakili kesedihan dalam hatinya.

"Selamat tinggal, Luwu!" teriaknya keras, tak ingin ada penyesalan. Di antara hujan, ia meninggalkan tanah kelahirannya, siap menantang dunia baru di Ale Cina.

Tokoh dalam Episode Ini

Sawerigading (protagonist) We Tenriabeng (supporting) Batara Lattu (supporting) We Nyili' Timo (supporting) La Togeq Langi' (supporting) Burung Pembawa Pesan (minor)