Episode 051: Lamaran Yang Ditolak Dan Perang Melawan Ale Cina
Hari yang sejuk menyelimuti Ale Cina, mengundang semangat untuk bersantai di sungai. Di tepi sungai, beberapa dayang We Cudai sedang mandi sambil bercakap-cakap. Tiba-tiba, suara arus yang terhambat menarik perhatian mereka.
Salah satu dayang berkata, "Ada apa dengan aliran ini? Sepertinya terhalang."
"Marilah kita lihat!" ajak satu yang lain, penasaran.
Saat mereka sampai di muara, wajah mereka membeku. Perahu Walen Renge milik Sawerigading terdampar. Ukurannya yang besar menghalangi aliran sungai.
"Ini yang mereka sebut Sawerigading? Dengar-dengar, dia berlayar untuk melamar We Cudai," ujar salah satu dayang, ketakutan.
"Mereka bilang dia sangat buruk rupa," sahut yang lain. "Sungguh tak layak untuk menjadi suami We Cudai!" Ketidakpastian menyelimuti mereka.
Sementara itu, berita buruk mencapai telinga We Cudai. "Sawerigading datang, tapi kabarnya dia tidak pantas untukku!" dia berteriak, mematung di dalam kamarnya. "Aku tak mau bertemu dia!"
"Jangan seperti itu, Ratu!" La Togeq Langi' mencoba membujuk. "Kau belum mengenalnya. Apa kau akan percaya pada rumor?"
"Aku tak ingin bertemu dengan pria yang kabarnya kotor dan kasar!" jawab We Cudai, menolak keluar.
Bagai petir di siang bolong, berita tentang calon pengantin ini telah membuat We Cudai terpenjara dalam kamarnya selama berhari-hari.
"Dengar, banyak harta datang dari Ale Luwu! Ini membuktikan kekuatan mereka!" sahut La Togeq Langi'.
"Apakah semua ini benar? Seseorang harus memberi tahu We Cudai agar dia menghentikan kebodohannya!" La Togeq memberikan masukan, tetapi We Cudai tetap terkurung dalam prasangkanya.
Di tempat lain, Sawerigading mempersiapkan lamaran dengan semangat, duduk bersama kru. "Kita bawa semua perhiasan ini ke Ale Cina!" teriaknya.
"Namun, jika mereka menolak sahabat kita, kita bisa terlibat perang!" satu awak mencemaskan.
"Perang adalah pilihan terakhir!" jawab Sawerigading tegas. "Kita harus menunjukkan siapa kita sebenarnya!"
Saat semuanya terhenti, Datu Patoto'e, pemimpin Ale Luwu, mengetahui situasi. "Jika mereka mengembalikan hadiah kita, itu adalah tanda perang. Kita tidak bisa berpangku tangan!" dia memperingatkan.
Dalam pertemuan di istana Ale Cina, Raja Laso Tempugi menyatakan, "Jika mereka mengembalikan semua hadiah, kita harus bersiap untuk pertempuran."
"Tidak ada lampu kuning dalam hal ini. Kita harus bersiap menghadapi segalanya!" seru bawahannya, bersemangat.
Dalam suasana yang semakin tegang, Sawerigading dan pasukannya bersiap untuk bergerak. "Kita harus serang! Mereka tak menghargai kita!" dia berkomitmen.
Perang pun tak terhindarkan ketika Sawerigading memimpin pasukan menuju Ale Cina, memikul beban kebanggaan dan harapan.
"Semua bersiap! Ini adalah saat kita!" teriak Sawerigading dengan suara penuh semangat. Peperangan akan dimulai, dan nasib mereka bakal ditentukan.