Episode 053: Kesombongan We Cudai Dan Istri Kedua Sawerigading
Sawerigading berdiri termangu di depan pintu kamar We Cudai, memikirkan syarat aneh yang diberikan saudarinya. "Mengapa cinta harus sekompleks ini?" gerutunya. Dengan tekad baru, ia melangkah masuk, memandang kelambu tujuh lapis yang menghalanginya. "We Cudai, aku di sini, bukan sebagai musuhmu, tapi sebagai suami yang berjuang untuk cinta kita!"
"Cinta tidak bisa dipaksakan, Sawerigading!" jawab We Cudai, suaranya penuh kesombongan. "Kau pikir dengan harta itu, aku akan luluh?"
Sawerigading menjawab, "Aku berani bertaruh harta dan nyawa demi mendapatkan hatimu! Syaratmu itu mungkin tak masuk akal, tapi kalau itu yang kau mau, aku akan memenuhinya!"
Di kerajaan langit, We Nyili' Timo mendengar kabar tentang ini. "Kau harus membantu adikmu, Batara Guru. Ini semua menambah beban emosional bagi Sawerigading," ujar We Nyili' Timo dengan nada prihatin. "Mustahil baginya untuk bertahan menghadapi penolakan seperti ini."
Batara Guru mengangguk, "Kau benar. Dia butuh dukungan. Ayo kita turunkan istana untuk membantunya!"
Kembali ke Ale Cina, Sawerigading berjuang melawan segala rintangan. Ia tidak menyerah, meskipun dihadapkan pada kesombongan We Cudai. "Adinda, buka sarungmu! Tataplah wajahku. Apa aku seburuk yang kau katakan?"
"Kurang ajar! Pergilah!" We Cudai berteriak, tersulut emosinya. "Kau hanya hasil dari rumor!"
Setelah perdebatan panjang, Sawerigading akhirnya memutuskan untuk menikahi seorang gadis dari Ale Cina yang direkomendasikan oleh We Tenri. "Ini mungkin langkah terburuk dalam hidupku," ucapnya ketika melihat wajah manis gadis itu, tetapi perasaanunya perlahan berubah. "Mungkin aku bisa menemukan kebahagiaan baru."
Saat mereka menjalani kehidupan sebagai suami istri, Sawerigading mulai merasa hangat kembali. "Denganmu, aku merasa bahagia," katanya kepada isterinya. Keduanya tersenyum, merasakan cinta yang baru.
"Bagaimana dengan We Cudai? Apakah dia akan menerima keputusan ini?" tanya We Tenri. "Apakah ini akhir dari segala penderitaan Sawerigading?"
Sawerigading menatap jauh, "Satu-satunya yang bisa kulakukan adalah berpikir positif. Namun, masih ada ganjalan di hatiku."
Suasana di Ale Cina terus memanas, konflik tak berujung, sementara Sawerigading mencoba merajut harapan baru. Dan saat malam tiba, ia berjanji dalam hati bahwa cinta sejatinya masih ada jalan untuk kembali.