Episode 055: End Lahirnya I La Galigo
Hari-hari di kerajaan Ale Cina kini dibungkus kehangatan, di mana Sawerigading dan We Cudai berbagi kebahagiaan baru. Namun, We Cudai masih tak mau mengakui ketampanan suaminya di depan orang tuanya. "Apa kamu yakin Sawerigading seburuk itu?" tanya We Tenriabeng, mengamati tingkah saudarinya.
"Dia adalah penguasa yang menyakitkan hatiku," jawab We Cudai dengan nada menggigit. "Bukan berarti aku tidak mencintainya, tetapi harga diriku terlalu tinggi."
Di sudut lainnya, sang ibu putih dari We Cudai, merasa gelisah dengan perilaku putrinya, bertanya, "Mengapa kau tidak mau makan, Nak? Apa yang terjadi padamu?"
"Aku ingin jambu dan mangga muda," jawabnya mendesak, seraya menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya. Tentu saja, ibunya mengetahui apa makna permintaan itu. "Apakah kau sedang ngidam?" ia curiga.
We Tenriabeng menatap Sawerigading, "Dia pasti mengalami sesuatu. Sikapnya makin tidak terduga."
Sawerigading hanya tersenyum, "Ini semua akan berlalu. Ketika bayi kami lahir, semua akan kembali normal."
Waktu berlalu dan pengharapan tiba di puncaknya. We Cudai mulai merasakan tanda-tanda kehamilan, tapi tetap bertahan dalam sikapnya yang keras hati. "Aku tidak akan meminta maaf padanya," geramnya dalam batin.
Ketika saat melahirkan tiba, rasa sakit menyengat sekujur tubuh We Cudai. "Panggil Puang Matoa!" teriaknya.
Ketidaksabaran mengalir, dan sawah Gading tak tinggal diam. "Biarkan aku berdoa untukmu," ujarnya saat meraba perut istrinya. "Ya, Patoto'e, ampuni kami."
Ajaib, rasa sakit We Cudai mereda. Akhirnya lahir seorang bayi laki-laki dan kegembiraan merayapi istana. Namun, di balik kegembiraan itu, We Cudai tak dapat menahan rasa bencinya. "Buang dia!" teriaknya, menjambak emosinya yang meluap.
"Saya tidak akan membiarkan anakku dibuang!" Sawerigading bersuara tegas, berusaha menengahi perasaan hampa yang menyelimuti. "Dia adalah masa depan kita!"
Bayi itu terpaksa diletakkan di atas rakit, menyisakan air mata di wajah bundo. Sawerigading menggelar hatinya, bertekad untuk menemui anaknya yang terasing. "Aku akan menemukannya," tuturnya dengan nada penuh keyakinan.
"Bayi itu akan menjadi sejarah," ucapnya penuh harapan. Dan di sinilah, kisah La Galigo dimulai, sebuah lahirnya penulisan sejarah yang akan dikenang sepanjang masa.
Setiap telapak kaki yang digenggam tak pernah sia-sia, dan Sawerigading melanjutkan pencarian cinta dan harapan yang tak lekang oleh waktu.