Episode 058: La Galigo Terhadap I We Cimpauq

Story DNA

Genre
folk tale
Tone
solemn
Themes
reconciliation, political alliance, sacrifice for the greater good, jealousy and acceptance
Plot Summary
Prince La Galigo's arrival brings both joy and anxiety, as he rejects all wet nurses, leading to the controversial decision to bring Ratu Jompo, a queen from a conquered kingdom. La Galigo accepts Jompo's milk, solidifying a crucial alliance, but this causes intense jealousy in his mother, Iwe Cimpao. Sawerigading, the father, struggles to maintain peace and convince Iwe of the necessity of unity for their son's future, leaving the path to true reconciliation uncertain but hopeful.

Episode 058: La Galigo Terhadap I We Cimpauq

Istana Limoungan dipenuhi suasana meriah seiring kedatangan La Galigo, putra mahkota Ale Luwu. Sawerigading berdiri di tengah kerumunan, bangga namun cemas. "Semoga ia mampu menggenggam takdir yang lebih besar," gumamnya. Iwe Cimpao, yang berdiri di sampingnya, menatap dengan mata berkaca-kaca. "Siapa yang akan menyusui La Galigo, Sawerigading?" tanyanya.

"Bukankah ia akan menyusu dari kita?" jawab Sawerigading, kebingungan dengan keraguan Iwe. Namun Iwe menggeleng, tampak tak yakin. "Ayahku kini menginginkan keturunan dari kerajaan langit untuk menyusui anak ini. Aku takut dia tidak akan mau menyusu dari aku."

Dengan keraguan yang menggantung, Sawerigading memanggil semua Inang Pengasuh. Satu per satu, mereka mencoba menyusui La Galigo, namun semuanya ditolak. "Ia hanya mau menyusu dari yang terpilih," ujar seorang pengawal dengan nada tidak percaya. Iwe terlihat semakin khawatir, sementara Sawerigading merasakan tekanan yang semakin berat di pundaknya.

Di tengah kekacauan tersebut, muncul ide. "Ratu Jompo, ratu yang telah ditaklukkan, mungkin bisa menyusui La Galigo," ungkap seorang pengawal, yang dikenali sebagai Wetan dari Abang. "Kita harus membawanya dari kerajaannya." Sawerigading mengangguk, berharap ini menjadi solusi.

Setelah penjelasan panjang lebar, Ratu Jompo setuju untuk datang. Dia dibawa ke istana dengan penuh hormat, namun tatapannya menyiratkan keraguan. Ketika La Galigo melihat Ratu Jompo, ia langsung menangis, memberi isyarat bahwa inilah orang yang ia inginkan. "Lihatlah, dia tahu!" seru Sawerigading, bersyukur.

Akhirnya, Ratu Jompo menggendong La Galigo dan memberinya susu. Seketika, suasana hening seolah semua masalah terabaikan. Namun, di balik senyuman Ratu Jompo terdapat rasa sedih. "Penaklukan ini tidak akan pernah bisa terhapus sepenuhnya," bisiknya dalam hati.

Sebagai ucapan terima kasih, Sawerigading berjanji akan membebaskan kerajaan Jompo dari pajak dan memberi mereka daerah Wiem Popa. Ratu Jompo tertegun. "Apa arti hadiah ini jika dibandingkan dengan apa yang hilang?" Namun, momen kebahagiaan berlayar di atas kesedihannya ketika melihat La Galigo menyusu dengan penuh rasa nyaman.

Kembali ke dalam istana, Iwe Cimpao merasakan kepahitan yang dalam. "Mengapa semuanya harus padanya?" teriaknya, hatinya terbakar oleh cemburu. "Sawerigading hanya menjadikan putra mahkota ini beban bagi kita! Kita tidak bisa menerima ini!"

Para pengawal mencoba menenangkan Iwe. "Dia adalah bagian dari kerajaan, We Cimpao," kata salah seorang prajurit. "Biji padi ini tumbuh dari akar kita." Emosi Iwe semakin memuncak. "Tidakkah kalian sadari? Kita mungkin akan terjajah oleh mereka suatu saat nanti!"

Sawerigading, di luar keributan, melihat semua ini dengan rasa kesedihan. Dia merasakan betapa sulitnya untuk menjadi jembatan antara dua dunia yang saling bertentangan. Dengan berat hati, dia melangkah menuju Iwe Cimpao, "Kita harus bersatu. Kita tidak bisa membiarkan hal ini mengganggu kedamaian kerajaan."

"Soal kedamaian? Apakah kita bukan yang selalu mengalah?" jawab Iwe dengan penuh kemarahan, menatap tajam. "Hanya karena La Galigo?" Gema suaranya mampu menahan semua yang ada, namun Sawerigading tetap tenang. "Karena La Galigo, kita mungkin masih memiliki harapan," ucapnya dengan penuh keyakinan.

Di saat itu, ragu dan rasa bersalah mulai merayap dalam hati Iwe. "Mungkin, kita terlalu jauh memisahkan diri dari kenangan indah," desahnya pelan, membiarkan emosinya menumpuk. Dalam kekacauan ini, jalan menuju persatuan menjadi semakin kabur, namun saat bersamaan, harapan akan persatuan di dalam perpecahan masih bisa ditemukan.

Tokoh dalam Episode Ini

La Galigo (protagonist) Sawerigading (supporting) Iwe Cimpao (antagonist) Ratu Jompo (supporting) Wetan dari Abang (minor)