Episode 059: Sosok La Galigo Yang Dicintai Semua Orang
Lima tahun berlalu dan La Galigo tumbuh menjadi anak yang ceria dan usil, dikenal karena kecerdikannya. "Ayah, aku sudah menyiapkan ayam kesayanganku!" teriaknya penuh semangat saat Sawerigading berjalan di sampingnya. Anak itu dengan bangga menunjukkan ayam peliharaannya yang tampak sehat dan bertenaga.
"Sabar, Galigo. Kita perlu merayakan upacara raga raga terlebih dahulu sebelum kau bisa menyabung ayam," jawab Sawerigading. Ia tahu betapa keinginannya tinggi, namun tradisi harus diutamakan. "Tapi semua teman-teman sudah menunggu!"
"Biarkan aku dan La Togeq Langi' mengurus semuanya. Kami akan membuat upacara ini lebih meriah daripada yang pernah ada!" Datu Patoto'e, ayah Sawerigading, ikut membantu, memberi dukungan kepada para petugas yang ditunjuk.
Ketika segala persiapan dimulai, bantuan dari Lapangan Terang dan Jugalah Masa Guni menjadi kunci. Mereka berdua merencanakan undangan untuk seluruh kerajaan dan merenovasi Istana Malimongan. "Ini harus grand! Kita akan menyambut semua kerajaan yang ada!" Lapangan Terang bersemangat.
Kedatangan Pallawa Gau, sepupu Sawerigading, menjadi sorotan penting. "Kenapa kau pergi ke Ale Cina tanpa kabar?" tanya Pallawa dengan ekspresi marah dan khawatir. "Kau berpindah tempat seperti tak peduli pada keluarga."
Sawerigading menggenggam bahu sepupunya, teringat pesan ibunya untuk menjaga Pallawa. "Aku minta maaf. Aku terlalu larut dalam urusan kerajaan ini."
Setelah berhari-hari segala persiapan, upacara dimulai. Ala Galigo kini dihadapkan pada tamu undangan, menerima hadiah mewah. "Dari harta ini, aku ingin mempertaruhkan semuanya di gelanggang sabung ayam!" tukasnya, membuat suasana di dalam istana penuh tawa.
"Tentu saja, La Galigo! Mari kita lihat siapa yang bisa mengalahkan ayammu!" gelak tawa menyebar, suasana ceria menyelimuti upacara. Dengan sabar, Sawerigading hanya mengangguk, bersyukur membiarkan anaknya berimajinasi.
"Pallawa, siaplah untuk pertandingan!" seru La Galigo, bersemangat, saat ayamnya bersiap untuk bertarung. Akhirnya, pertandingan dimulai dan La Galigo meraih kemenangan. "Akulah La Galigo topabotoe!" jerkahnya yang disambut dengan sorak-sorai.
Melihat kebahagiaan di wajah anaknya, Sawerigading merasakan cinta mendalam bagi keluarga dan tradisi. "La Galigo, kau akan menjadi pemimpin yang hebat," pikirnya dengan penuh harapan. Suasana yang tadinya formal kini dipenuhi tawa dan kegembiraan, menciptakan kenangan baru yang tak terlupakan.