Episode 066: Dendam Kesumat Dan Kekejaman La Galigo
Suasana di istana Malimongan dipenuhi euforia menyambut kepulangan La Galigo. Para pengawal dan penghuni istana menganggapnya pahlawan karena keberaniannya menghadapi ancaman di Ale Cina. Yang lebih mencolok, La Galigo kini dikelilingi 70 pengawal yang setia, menjaga setiap langkahnya.
Namun, di balik kebahagiaan itu, La Galigo mulai menunjukkan sisi keangkuhannya. "Aku akan tunjukkan kepada kalian semua, betapa kuatnya diriku di Ale Cina," ujarnya penuh percaya diri, saat berburu di hutan. "Mereka semua akan merasakan akibat mengganggu kita!"
"Sang pangeran yang berani, namun tindakanmu ditandai dengan kemarahan," sahut Salah, salah satu pengawalnya, meragukan. "Membunuh penggembala tentu bukan cara bijaksana."
"Haha! Kamu tidak mengerti, Salah! Ini semua untuk menarik perhatian mereka! Siapa pun yang berani melawan kita akan merasakan apa itu kebangkitan dari La Galigo!" jawabnya, tertawa puas.
Salah menggelengkan kepala, "Tapi, bukankah mereka tidak bersalah? Apakah semua ini karena motif balas dendam yang tidak budiman?"
La Galigo mendekat dengan ekspresi tajam. "Ingat, Salah! Ini bukan tentang benar atau salah, ini tentang kesombongan! Aku melawan bukan hanya untukku, tapi untuk setiap orang yang merasa terinjak!"
Di sisi lain, We Cudai dan Sawerigading mendengar kabar tindakan La Galigo dari para pengawal. "Apa yang dilakukan La Galigo? Ini sangat tidak cocok untuk seorang pemimpin!" We Cudai berkata dalam nada khawatir.
"Dia perlu belajar untuk membedakan antara keberanian dan kebodohan," Sawerigading menjawab, penuh rasa bersalah. "Kami tidak bisa membiarkannya terjebak dalam kekuasaan yang membuatnya kehilangan arah."
Keduanya sepakat untuk mencari cara menasihati La Galigo. Dalam perjalanan menuju istana, Sawerigading menambahkan, "Kita harus bicara dengannya. Dia adalah masa depan kita, dan kita tidak bisa melupakan tanggung jawab yang menyertainya."
Perbincangan mereka dibayangi oleh ketegangan, dan saat tiba, mereka mendapati La Galigo merayakan 'kemenangan' dengan pengawal-pengawalnya. "Jika mereka datang ke sini, kita akan siap! Kita akan tunjukkan siapa yang sebenarnya berkuasa di Ale Cina!" serunya, disambut sorakan.
Melihat hal itu, We Cudai menatap Sawerigading, penuh harapan. "Kita harus segera bertindak, sebelum semuanya terlambat."
"Tapi bagaimana? Jika kita melawan semangatnya sekarang, dia mungkin merasa tertekan," Sawerigading merenung. "Dia harus menemukan jalan yang benar sendiri, bahkan jika itu menyakitkan."
Ketika malam tiba, La Galigo merenung di balkon, menatap bulan. "Apa yang sebenarnya aku inginkan?" tanyanya pada dirinya sendiri, merasakan pertarungan antara keinginan dan tanggung jawab yang semakin menghimpit. Dendam yang membara semula mungkin harus dipertanyakan dari dalam, saat pertarungan batin ini semakin menciptakan celah antara masa lalu dan masa depan.
Di sekelilingnya, angin berbisik, seolah memanggilnya untuk memilih antara kekuasaan dan kebijaksanaan. La Galigo tahu, perjalanan ini baru saja dimulai.