Episode 067: Seorang Yang Bisu

Story DNA

Genre
folk tale
Tone
solemn
Themes
sacrifice, humility, family love, duty vs. pride
Plot Summary
Sawerigading's daughter, We Cudai, is gravely ill, and his wife, We Tenriabeng, suggests the unconventional cure of planting rice, a task beneath their noble status. After much internal conflict, Sawerigading reluctantly agrees, and the noble family unites to cultivate the rice. However, after a healing ritual, a new challenge arises: two mute individuals require rare equipment for the cure. Sawerigading is then faced with the difficult decision to send La Galigo on a dangerous quest, accepting the heavy burden for his daughter's uncertain future.

Episode 067: Seorang Yang Bisu

"Kenapa ini semua terjadi pada kita?" Sawerigading merintih, menatap lemah putrinya, We Cudai, yang terbaring pucat.

"La Cudai, kamu harus kuat," We Tenriabeng menempatkan tangannya di bahu Sawerigading, berusaha menguatkan hatinya. "Kita sudah mencoba segalanya."

Sawerigading mengalihkan pandangannya ke arah sawah yang baru saja ditanam, harapan terakhirnya. "Jika hanya menanam padi bisa menyembuhkan dia, aku akan melakukannya! Tapi harga diriku..."

We Tenriabeng menatap tajam. "Sawerigading, kesembuhan Cudai lebih penting daripada harga diri. Sanggupkah kau mengambil langkah ini?"

"Saya tahu, tetapi… menanam padi adalah pekerjaan rakyat biasa. Bagaimana aku bisa melakukannya?" Suaranya penuh keraguan.

"Putri kita butuh kita, Sawa. Kita harus mendiskusikannya dengan Datu Palinge' dan La Mappanganro," sahut We Tenri. "Mereka mungkin bisa membantu."

Dengan gelisah, Sawerigading menyetujui. "Baiklah. Tapi aku tidak bisa membiarkan mereka melihatku dalam posisi ini."

Setelah keputusan, keduanya segera menemui Datu Palinge' dan La Mappanganro. "Kami datang memohon bantuan. We Cudai menderita, dan satu-satunya obatnya mungkin padi."

La Mappanganro menjawab, "Kami akan membantu. Kami semua memiliki tanggung jawab untuk melindungi keluarga kita."

Datu Palinge' menambahkan, "Mari kita buktikan bahwa bangsawan bukan hanya tentang status. Kita akan jalani ini bersama!"

Dalam semangat persatuan, mereka mulai bekerja di sawah, menggunakan semua kekuatan dan niat baik mereka. Tiga bulan berlalu, dan tiba saatnya untuk menuai hasil.

"Jangan khawatir, We Cudai. Padi ini akan menjadi obatmu," kata Sawerigading, harapan kembali menyala.

Proses ritual untuk kesembuhan We Cudai pun dilaksanakan di depan altar. Tarian tradisional dan doa-doa mengalun, Dengan sikap serius, mereka berdoa kepada Sanghyang Seri agar turun tangan.

Malam pun tiba, saat semua harapan ditumpukan kepada hasil padi. "Kita telah melakukan yang terbaik. Sekarang serahkan semuanya kepada dewa," ucap We Tenriabeng.

Namun, kebahagiaan berujung kegelisahan saat Datu Palinge' datang dengan wajah cemas. "Ada hal yang mendesak-kedua bisu, We Gaderang dan We Pusaka, memerlukan peralatan yang tidak mudah didapat."

"Saya hanya bisa berharap mereka bisa memenuhi syarat itu," gumam Sawerigading, raungan ketidakpastian menggerogoti jiwanya.

Kini, keputusan tersisa di tangan Sawerigading. "Haruskah aku mengutus La Galigo ke Ale Luwu untuk mencari peralatan itu?"

Kedua sepupunya menatapnya dengan kecewa. "Itu adalah risiko yang besar, tetapi untuk We Cudai, kita tidak memiliki pilihan lain," jawab La Mappanganro.

Sawerigading tahu, langkah ini akan membawa mereka ke dalam kegelapan yang lebih dalam. "Mari kita persiapkan segala sesuatunya-aku akan melakukan ini!"

Dengan langkah berat, Sawerigading merasakan beban yang besar di bahunya. Pertarungan antara cinta, kesombongan, dan tanggung jawab kini berpuncak dalam sebuah keputusan yang menentukan masa depan Cudai dan seluruh keluarga.

Tokoh dalam Episode Ini

Sawerigading (protagonist) We Cudai (supporting) We Tenriabeng (supporting) Datu Palinge' (supporting) La Mappanganro (supporting) We Gaderang (minor) We Pusaka (minor) La Galigo (minor)