Episode 069: Yang Gagal Dan Perang Melawan Ale Luwu
Keesokan harinya, seluruh rombongan telah berkumpul di pelabuhan Ale Cina. Langit biru terlihat cerah seolah menyambut kepergian putra mahkota, La Galigo. "Persiapkan semua dengan baik! Perjalanan ini sangat penting," seru La Togeq Langi', semangatnya menular ke semua awak kapal.
Sawerigading mengingatkan, "Jangan kira segala sesuatunya akan berjalan mulus. Saling menghormati adalah kunci kita di perjalanan ini."
Setelah berpamitan, perahu berlayar menjauh dari pelabuhan. Namun, perjalanan tidak mulus; perseteruan antara awak kapal terjadi. "Kau orang Luwu tidak tahu cara berlayar!" cibir seorang awak dari Ale Cina, diikuti teriakan balasan.
La Galigo berdiri di tengah kerumunan, "Kita di sini untuk satu tujuan, bukan untuk bertengkar! Ingat, kita adalah satu tim." Suara marahnya menjalar ke setiap orang yang mendengar, seolah mengingatkan mereka akan bahaya yang mengintai.
Beberapa hari kemudian, keadaan mulai membaik. Mereka tiba di kerajaan Siwa, di mana La Galigo menyamar. "Jangan sebutkan nama kita yang sebenarnya," bisiknya kepada seorang pengawal, "Kita harus hati-hati." Para nelayan di sana mengenakan atribut duka, membuat La Galigo tertegun. "Apa yang terjadi di Ale Luwu?" tanyanya kepada salah satu nelayan.
"Kerajaan kehilangan Sawerigading," jawab nelayan itu dengan nada sedih. La Galigo terkejut dan merasa perlu segera kembali.
Tiba di kerajaan Takabur, La Galigo kembali berusaha menyembunyikan identitasnya. "Kami hanya pelaut dari negeri jauh," ujarnya dengan hati-hati. Namun, setelah mendengar kisah La Galigo, warga bersorak. "Putra Sawerigading datang ke sini! Dia adalah harapan kita!"
Dalam semangat persatuan, La Galigo terus berfokus pada misinya untuk mendapatkan peralatan penyembuhan. "Kami datang untuk membantu, bukan untuk mencuri perhatian," jelasnya kepada pemimpin setempat. Dengan izin, mereka melanjutkan perjalanan.
Saat kapal mereka kembali menyandarkan diri di Ale Luwu, dua bangsawan merasa tanda-tanda positif. "Lihat, perahu itu jauh terlihat!" teriak pengurus.
"Segera siapkan pesta sambutan!" perintah pengurus, wajahnya berseri-seri. "Mereka membawa harapan baru untuk kerajaan kita."
Di dalam kapal, La Galigo merasa tertekan. "Lapangan, mungkin saatnya kita tunjukkan siapa kita?" saran teman dekatnya. Dalam diam, La Galigo menanggapi, "Kita harus hati-hati. Mereka sudah cukup mengalami banyak penderitaan."
Sementara itu, pengurus dan para bangsawan tidak sabar untuk melakukan penyambutan. "Kita perlu menyambut mereka dengan penuh kehormatan," ujar seorang bangsawan dengan bersemangat.
Setibanya di pelabuhan, La Galigo dan rombongan merasakan ketegangan. "Siapkan diri! Kita mungkin mengalami masalah," bisiknya kepada Lapangan Terang. Tapi ketika mereka melangkah dan mengenali wajah-wajah familiar, momen itu menjadi berat.
Melawan rasa takut akan pengkhianatan, La Galigo menantang, "Jika kalian percaya pada kepulangan Sawerigading, saya berani bertaruh, kami akan menyabung ayam dan memenangkan pertempuran ini."
"Menyerah saja, La Galigo! Kami tidak takut dengan angan-anganmu," sahut salah satu bangsawan sambil tertawa.
La Galigo menatap tajam, "Jika itu yang dianggap kalian, maka bersiaplah untuk pertempuran!"
Dengan suasana memanas, semua pihak bersiap-siap menghadapi konsekuensi dari tantangan yang ditawarkan. Pertarungan demi nama dan kehormatan kini tak terhindarkan lagi.