Episode 074: La Galigo Melawan Prajurit Terkuat Di Ale Cina

Story DNA

Genre
folk tale
Tone
solemn
Themes
pride and humility, consequences of ego, leadership and responsibility, fate vs. free will
Plot Summary
La Galigo arrives at Tanete Ale Cina, determined to prove his leadership, and accepts a challenge of strength. When the revered warrior toh ada Nacha declines to fight due to age, La Galigo's pride leads him to arrogantly challenge the elder to a duel. During their confrontation, a sudden lightning strike tragically kills toh ada Nacha, leading the community to blame La Galigo. The celebratory day turns into mourning, leaving La Galigo burdened with profound guilt and questioning his fitness to lead.

Episode 074: La Galigo Melawan Prajurit Terkuat Di Ale Cina

La Galigo melangkah dengan keyakinan ke istana Tanete Ale Cina, bertekad untuk menghentikan pencariannya kepada We White demi keluarganya. "Aku tidak akan mengecewakan mereka," bisiknya penuh tekad, meski hatinya terus bergetar oleh kerinduan.

We Tenriabeng menyambutnya di pintu istana, "La Galigo, kau harus bersiap menghadapi upacara tepung juru. Ini bukan hanya perayaan, ini soal kekuatan!" serunya, membangkitkan semangat.

"Siap atau tidak, aku tidak akan mundur," jawab La Galigo dengan suara penuh percaya diri, meskipun ketegangan menyelimuti suasana. "Seluruh negeri akan tahu bahwa aku mampu melindungi mereka."

Saat persiapan berlangsung, desas-desus tentang toh ada Nacha, panglima perang terkuat, mulai menyebar. "Dia adalah kunci untuk memenangkan pertempuran nanti!" seru seorang prajurit. "Namun, dia juga membuatku takut," We Cudai menambahkan, wajahnya cemas.

La Galigo menatap kerumunan, rasa bangganya semakin membara. "Aku akan membuktikan siapa yang berhak menjadi pemimpin di sini!" teriaknya, mengundang sorak-sorai dari para pengikutnya.

Dalam momen krusial, toh ada Nacha dipilih sebagai peserta pemegang talam emas. "Dengan segala hormat, aku menolak," ujar toh ada Nacha dengan tenang, "Usiaku sudah terlalu tua untuk bertarung."

Namun, La Galigo tidak menerima penolakan itu. "Jika seorang tua tidak mau melawan, biarkan anakmu yang menggantikan! Aku tidak takut!" tantangnya, merasakan kemarahan di dalam dirinya.

"Jangan anggap remeh kekuataniku, La Galigo," jawab toh ada Nacha, ekspresinya berubah serius. "Tapi jika kau tetap bersikeras, mari kita duel!" tantangannya menggema, membuat semua orang terdiam.

Pertarungan yang diantisipasi pun dimulai. Dalam arena, La Galigo dan toh ada Nacha saling berhadapan. Suara desiran darah mengalir saat keduanya bersiap. "Jika kau kalah, jangan salahkan aku," kata toh ada Nacha, "aku hanya ingin melindungi negeri."

La Galigo menyeringai. "Kita lihat siapa yang lebih kuat di sini!" teriaknya, melibas pedangnya ke arah lawan.

Tiba-tiba, kilatan petir mengagetkan orang banyak, dan hujan deras turun membanjiri arena. Dalam kekacauan itu, duel terhenti. "Kita tidak bisa bertarung dalam cuaca seperti ini!" teriak We Tenriabeng, mencoba mengingatkan.

Berusaha meninggalkan arena, mereka terjebak oleh petir yang menyambar toh ada Nacha. Tanpa mampu menahan, tubuhnya terjatuh. "Tuan! tidak!" jerit para pengawal, menyaksikan kejadian tragis itu.

Keributan menyeruak. "Ini semua salah La Galigo!" teriak salah seorang prajurit dengan penuh kemarahan. "Kematian ini adalah akibat dari egoismu!"

La Galigo, wajahnya pucat, hanya terdiam, menyadari bahwa hari yang seharusnya meriah kini berakhir menjadi duka. "Apa yang telah kulakukan?" ucapnya pelan, rasa bersalah mendera jiwanya.

Di luar sana, desa Ale Cina berkumpul dalam suasana duka. "Hari ini seharusnya menjadi berkat, namun kini menjadi noda di halaman sejarah kita," keluh We Cudai, mengingat betapa putus asanya semuanya.

Ketika upacara pemakaman dimulai, La Galigo duduk terpuruk. Rasa kesedihan menyelimuti hatinya. "Aku telah mengubah segalanya," gumamnya, berjanji di dalam hati untuk tidak membiarkan kesalahan ini terulang lagi.

"Jika aku berbuat salah, aku akan memperbaikinya," La Galigo mengucapkan, membayangkan jalan penuh liku ke depannya. Hari yang awalnya penuh harapan kini tercoreng, dan beban itu tergerak di dalam dirinya-apakah dia masih layak menjadi pemimpin?

Tokoh dalam Episode Ini

La Galigo (protagonist) We Tenriabeng (supporting) toh ada Nacha (antagonist) We Cudai (minor)