Episode 085: Ngiliqna Iyoq Dan Lahirnya Anak I La Galigo

Story DNA

Genre
legend
Tone
solemn
Themes
justice, power and responsibility, consequences of actions, destiny
Plot Summary
La Galigo, weakened by a curse and longing for Putri Tompo, is revived by his brother Sawerigading. Upon recovery, Sawerigading enforces strict justice, leading to the execution of La Galigo's defiant wife, Iyo, despite La Galigo's protests. Meanwhile, in another kingdom, Putri Tompo gives birth to La Mappanganro, a son destined to challenge La Galigo's family, setting the stage for future conflict and continuing the epic saga.

Episode 085: Ngiliqna Iyoq Dan Lahirnya Anak I La Galigo

Semenjak rombongannya tiba di Ale Cina, La Galigo tampak lesu dan pucat. Dia menghabiskan waktu berbaring di kasur sambil teringat pada Putri Tompo, rindu menyelimuti hatinya. Sawerigading mencermati kondisi saudaranya yang semakin menurun. "La Galigo, kau harus bangkit dari tempat tidur! Keluarga dan rakyat membutuhkanmu," serunya saat mengetuk pintu kamar La Galigo.

"Aku tidak bisa, Saori. Rasanya seolah kekuatanku direnggut," jawab La Galigo lemas.

Sawerigading tak bisa tinggal diam melihat saudaranya dalam keadaan tersebut. "Aku harus membebaskan kau dari ikatan ini!" Dengan keyakinan, dia melakukan mantra untuk mematahkan ilmu hitam yang mengikat La Galigo. Tiba-tiba La Galigo terbangun, kaget. "Di mana aku? Apa yang terjadi?"

"Kau sudah kembali ke Ale Cina, saudaraku. Namun, ada hal lebih penting yang perlu kau hadapi," ujar Sawerigading sambil menatap La Galigo dengan cemas.

Setelah kondisi La Galigo membaik, ia turun dari kapal dan berhadapan dengan istri-istrinya. Salah satunya, miliknya Iyo, menangis penuh kesakitan. "Aku sudah menderita selama ini! Kenapa kau tidak menolongku?"

"Ini semua untuk keadilan. Kau harus membayar atas perbuatanmu," jawab Sawerigading tegas sambil melangkah maju, tak menghiraukan permohonan miliknya Iyo.

"Menjadi raja tidak memberikan hak untuk menyiksa!" teriak La Galigo dengan nada penuh kemarahan. Namun, We Cudai mengintervensi. "Saudara, setidaknya berikan dia kesempatan untuk hidup. Aku mohon!"

"Baik. Dia dan yang lain akan kubebaskan, tapi hukumannya tetap berlaku." Sawerigading berkata meski hatinya berat.

Keesokan harinya, miliknya Iyo dieksekusi di depan para pembesar. La Galigo dan Sawerigading menyaksikan dengan tatapan tanpa rasa kasihan. "Ini adalah konsekuensi jika kau berani menentang kami!" seru Sawerigading. Dalam momen itu, air mata mengalir di wajah miliknya Iyo, tidak ada kata-kata yang bisa mengungkapkan penderitaannya.

Di kerajaan Pujananting, Putri Tompo yang sedang hamil memanjatkan doa berharap suaminya segera kembali. "Mengapa dia tidak datang? Apakah dia sudah melupakan aku?" tanya Putri dengan lirih kepada Weber Yaji.

"Putri, fokuslah pada bayi ini. Dia akan menjadi harapan bagi kita semua," jawab Weber Yaji dengan lembut. Harapan baru lahir di hati Putri ketika pada akhirnya dia melahirkan seorang bayi laki-laki, yang diberi nama La Mappanganro.

Weber Yaji tersenyum bangga saat melihat sang cucu. "Kau adalah pewaris semua kekuasaan ini. Suatu hari, kau akan mengunjungi Ale Cina dan mengangkat tahta kembali."

Sekarang, konflik baru menjelang antara La Mappanganro dan keluarga La Galigo. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Ketegangan semakin memuncak saat La Mappanganro tumbuh menjadi sosok yang penuh potensi.

Tokoh dalam Episode Ini

La Galigo (protagonist) Sawerigading (supporting) Putri Tompo (supporting) Iyo (antagonist) We Cudai (supporting) Weber Yaji (supporting) La Mappanganro (protagonist)