Episode 093: Terakhir Sawerigading Dan Kesedihan Penduduk Bumi
Setelah penutupan pintu langit, kesedihan menyelimuti hati banyak pihak. Sawerigading berdiri, matanya menatap hampa ke arah langit. "Kini, aku tak bisa lagi meminta bantuan pada para dewa," gumamnya sambil meremas tangannya.
"Aku juga merasa kehilangan, Sawerigading," La Galigo menjawab dengan nada penuh kepedihan. "Pertemuan kita tak akan pernah terulang. Apa yang harus kita lakukan sekarang?"
Di sisi lain, We Tenriabeng menangis tersedu. "Bagaimana dengan Salindrung Langit? Dia terjebak di bumi," ia menggerakkan kepalanya penuh duka. Suaminya, Rambang Rilangi, mencoba menenangkannya. "Bersabarlah, ini adalah ketetapan Sang Datu Patoto'e. Kita harus menerima semua ini."
"Ya, kau benar, kita hanya perlu pasrah dan belajar menghadapi kenyataan," We Tenriabeng setuju, menghapus air matanya. "Biarkan dunia berjalan seperti harusnya, tanpa saling mengganggu lagi."
Di Ale Cina, Salindrung Langit merasa menyesal. "Aku dulunya dewa, kini hanyalah manusia biasa," keluhnya kepada Mutia Toja. Istrinya tersenyum, menenangkan. "Kita masih bisa berbulan madu di kerajaan Pertiwi," tawar Mutia, bersemangat.
"Namun, bagaimana mungkin kita bisa pergi ke sana?" tanya Salindrung, bingung. "Kita hanya bisa berharap bahwa ada jalan."
Sebagai tanda harapan, mereka berdoa di tepi sungai. Saat itu, tiba-tiba seekor buaya muncul. "Pintu ke kerajaan Pertiwi telah tertutup," katanya, mengingatkan mereka akan kenyataan pahit ini.
"Apa ini semua? Tak ada satu pun jalan yang terbuka untuk kita?" Salindrung marah, tetapi Mutia memegang tangannya. "Kita harus kembali dan menerima takdir ini," ucapnya lembut.
Keduanya akhirnya pulang ke Ale Cina, terpaksa menghadapi kenyataan bahwa mereka kini hidup dalam keterbatasan sebagai manusia biasa. Sementara itu, Sawerigading merasakan akhir yang mendekat. "Saatnya bagi aku untuk berlayar dan menjelajahi dunia," dia menggumam, bertekad.
"Kau yakin ini, Sawerigading?" La Galigo bertanya, khawatir. "Apa kau tak takut menghadapi apa pun di lautan?"
"Aku tak bisa terjebak di tanah ini. Biarkan hidupku menjadi petualangan terakhir," jawab Sawerigading berapi-api.
"Kalau begitu, aku mendukungmu. Semoga perjalananmu membawa berkah," La Galigo berjanji.
Dengan semangat baru dan tekad yang tidak tergoyahkan, Sawerigading bersiap untuk berlayar, sementara kerinduan dan kesedihan membayangi mereka yang tertinggal di bumi.