Episode 108: Sawerigading Dan Pertemuan Batara Lattu Dengan I La Galigo
Di negeri Ale Cina, suasana terasa bercampur antara bahagia dan sedih. Sawerigading, terlihat sibuk membantu istrinya, We Cudai, mempersiapkan kepergian mereka menuju Ale Luwu. "Aku khawatir, We Cudai. Bagaimana jika aku merasa rindu padamu selama perjalanan?" tanya Sawerigading, wajahnya menunjukkan keraguan.
"Jangan khawatir, Suamiku. Ini perjalanan penting untuk anak-anak kita. Aku akan menunggu dengan sabar hingga kalian kembali," jawab We Cudai, berusaha menenangkan hati suaminya. Di dalam hatinya, We Cudai juga merindukan kehadiran Sawerigading. Dia mengingat betapa berbahagianya saat mereka bersama.
Saat kapal menunggu di dermaga, Sawerigading melambaikan tangan ke arah istri dan anak-anaknya, yang semakin menjauh. "Jaga dirimu dan anak-anak kita, Cudai!" teriaknya, suaranya penuh emosi. Dia merasakan kepedihan yang dalam saat melihat mereka pergi.
Di atas kapal Walen Renge, Peranandran memberikan instruksi pada para awak kapal. "Kita akan berlayar dalam waktu sepuluh hari. Pastikan semua siap!" ujarnya tegas. "Ini adalah perjalanan yang tidak boleh kita anggap remeh."
Akhirnya, sepuluh hari berlalu, dan di tengah lautan, kapal mereka mendekati sebuah daratan. "Itu dia, Ale Luwu!" seru We Tenri, gembira. Sorakan dari anak buah kapal menggema saat mereka melihat tanah yang menjadi tujuan.
Sesampainya di Ale Luwu, kemeriahan menyambut mereka. Batara Lattu sudah menanti di pelabuhan. "Sawerigading tak ikut? Itu kabar mengecewakan," ucap Batara Lattu dengan nada datar saat melihat kedatangan rombongan.
"Namun, aku membawa La Galigo, cucumu!" jawab We Cudai, memperkenalkan anaknya. Keduanya saling berbagi cerita tentang perjalanan dan pengharapan yang terpendam.
Sementara itu, We Panangareng, istri Sawerigading, merasakan hatinya terbakar oleh rasa cemburu saat melihat keanggunan We Cudai. "Dia lebih cantik dariku," bisiknya, menundukkan kepala. Dengan perasaan tertekan, dia pun meninggalkan perayaan itu, mendapati dirinya terjebak dalam bayang-bayang kesedihan.
Di dalam biliknya, air mata We Panangareng mengalir. "Mengapa aku masih mengharapkan Sawerigading?" pikirnya. "Sepertinya semua tak lebih dari kenangan dan kerinduan yang menyakitkan."
Sementara itu, di luar, Sawerigading merasakan kedamaian yang menjauh dari janjinya. "Mungkin saatnya aku kembali," gumamnya, bertekad untuk menyusuri jalan pulang dan menyatukan kembali keluarganya. "Aku tak akan membiarkan jarak memisahkan kita lebih jauh lagi!"
Akhir cerita kali ini berputar pada harapan baru dan perjalanan yang penuh dengan dinamika cinta, kesedihan, dan pencarian identitas. Bagaimana kisah tanpa akhir ini akan berkembang? Kita akan terus menyaksikannya di episode berikutnya.