Episode 115: La Mappanganro Anak I La Galigo Dan Cucu Sawerigading
Di kerajaan Pujananting, suasana tampak sepi meski dikhususkan untuk merayakan kelahiran La Mappanganro, anak pertama La Galigo. Dengan penuh bangga, Putri Tompo berkata kepada pengawalnya, "Dia akan tumbuh sebagai pahlawan, mengikuti jejak ayahnya." Namun, di balik senyuman, ada kesedihan tersimpan.
Di gelanggang sabung ayam, La Mappanganro, meski masih belia, menunjukkan ketertarikan yang besar pada arena sabung. "Tunggu, ayah! Aku ingin ikut!" serunya, ketika dia melihat anak-anak lainnya berlari menuju arena. Namun, mata ayahnya, La Galigo, kosong menatapnya.
"Aku tidak bisa membiarkanmu pergi," jawab La Galigo, berusaha tegas. "Ini bukan tempat untuk anak sepertimu."
"Aku bisa melakukannya, Ayah! Beri aku kesempatan!" La Mappanganro memohon, tapi La Galigo mengalihkan tatapan, berpura-pura tidak mendengar. Dalam hatinya, La Mappanganro merasa ditinggalkan.
Hari demi hari, kesenduan menyelimuti La Mappanganro, ia semakin tumbuh tanpa perhatian yang cukup dari ayahnya. Suatu ketika, di halaman yang sepi, ia berbisik, "Ke mana ayah pergi? Kenapa ia tak pernah pulang?" Rasa ingin tahunya semakin menggebu-gebu.
Hingga satu hari, Putri Tompo, menyadari kerinduan anaknya yang mendalam, berkata, "La Mappanganro, ayahmu adalah La Galigo. Ia raja yang besar," ujarnya sambil mengusap bahu putranya. Mata La Mappanganro melotot mendengar kata-kata ibunya, "Jadi, aku punya ayah sekuat itu?"
Meski demikian, Putri Tompo mengingatkan, "Tapi kamu tidak boleh pergi sekarang. Masih banyak yang harus kau pelajari." La Mappanganro pun memperbaharui tekadnya, "Aku akan menjadi kesatria yang hebat. Suatu hari, aku akan bertemu ayahku!"
Seiring berjalannya waktu, La Mappanganro dilatih oleh para prajurit. Ia cepat belajar, tetapi kerinduan akan sosok ayahnya tak pernah pudar. "Aku butuh izin untuk berlayar ke Ale Cina. Saatnya aku mencari jawaban tentang diriku," pinta La Mappanganro kepada ibunya.
Putri Tompo, yang sebelumnya ragu, akhirnya mengangguk, "Baiklah, demi impianmu." Dengan berat hati, dia sedikit mendorong La Mappanganro untuk pergi.
Saat itu, armada dibangun untuk La Mappanganro. Namanya, Wieng Pedalang, mencerminkan tekadnya. "Aku akan kembali membawa kehormatan bagi keluarga!" serunya pada para pengawalnya.
Ketika akhirnya kapal berlayar menuju Ale Cina, La Mappanganro berdiri di dek, angin menyapu wajahnya. "Kemanakah gerangan ayahku?" pikirnya, sambil menikmati pemandangan lautan yang luas.
Sesampainya di Ale Cina, La Mappanganro merasa cemas. Ia menginjakkan kaki di tanah yang merupakan leluhurnya. "Di manakah aku bisa menemukan ayah?" katanya kepada seorang nelayan yang dilihatnya. "Tidakkah kau mengenali sosok La Galigo?"
Nelayan itu mengarahkan tangannya ke gelanggang sabung ayam. "Cobalah di sana, banyak orang berkerumun," ujarnya. Tanpa ragu, La Mappanganro bergegas ke arah yang ditunjukkan.
Di gelanggang, La Mappanganro tiba-tiba melihat sosok yang dikenalnya-La Galigo. Jantungnya berdegup kencang. "Dia tidak tahu siapa aku," bisiknya. Dengan percaya diri, ia berlari menuju gelanggang, ingin mengetahui siapa dirinya.
"Siapa yang berani menantangku?" tanya La Galigo, mengawasi kerumunan. La Mappanganro berani maju, "Akulah yang akan menantangmu!"
Semua terdiam, dan La Galigo menatap La Mappanganro dengan mata penuh minat. "Jika kamu kalah, tempatku akan menjadi milikmu."
La Mappanganro langsung setuju, "… dan jika aku menang, aku akan mendapat kehormatan." Mereka pun adu ayam, dan kerumunan bersorak. Duel berlangsung dengan ketegangan menggantung di udara.
Ketika kemenangan diraih oleh La Mappanganro, sorakan menggema, "Dia luar biasa!" Namun, La Galigo, tidak terima dan dengan marah menantang, "Mengapa kita mengadu domba lewat ayam? Mari kita bertarung secara langsung!"
La Mappanganro tak ragu. "Baiklah, Ayah!" Terjadilah duel antara ayah dan anak. Dua jagoan itu saling menyerang dengan sepenuh hati.
Dalam momen itu, darah mengalir deras. La Mappanganro berkata, "Ayah, aku adalah anakmu!" Namun, La Galigo terdiam, "Tidak mungkin!"
Saat pertarungan berakhir, keduanya tampak melihat satu sama lain. Menangis bahagia, La Mappanganro berlari memeluk ayahnya. "Ayah! Akhirnya aku menemukanmu!"
Dengan haru, La Galigo berbisik, "Kau adalah anakku, dan aku sudah menunggu saat ini." Sorakan di arena meledak, menandai bersatunya keluarga yang terpisah.