Episode 117: La Mappanganro Cucu Sawerigading Bagian 3 Selesai
"Ini belum berakhir, Aji Laide. Kita menang perang, tapi belum menang atas diri sendiri," kata La Mappanganro, napasnya berat di tengah kabut mesiu.
Aji Laide menatap langit yang masih berpendar merah. "Kalau begitu, tutup perang ini malam ini. Jangan biarkan anak-anak kita mewarisi dendam yang sama."
Di lembah yang porak-poranda, pasukan manusia dan pasukan gaib saling menahan serang. Panyiwi Riu turun kembali, tidak lagi dengan amarah yang meledak-ledak, melainkan dengan suara dingin yang menguji.
"Kalian menantang langit. Mengapa aku harus menghentikan murka ini?"
La Mappanganro maju tanpa mengangkat senjata. "Karena kami tidak datang untuk menista dewa. Kami menolak diinjak. Ada batas yang harus sama-sama kita jaga."
Hening panjang menggantung. Petir mereda. Aji Laide memberi isyarat pasukan untuk menurunkan tombak.
"Kami hentikan serangan," ujarnya keras. "Siapa pun yang melanggar, dihukum adat malam ini juga."
Panyiwi Riu menatap medan perang yang dipenuhi korban. "Kalian memilih menahan tangan saat bisa membalas. Itu bukan kelemahan."
La Karoda, terluka namun tegak, menjawab, "Kami memilih hidup, bukan kemenangan kosong."
Setelah itu, pertempuran ditutup dengan sumpah damai bersyarat: manusia menjaga adat dan batas dunia, pihak gaib tidak lagi turun tangan untuk ambisi politik manusia. Tidak ada sorak kemenangan. Yang ada hanya penguburan, tangis keluarga, dan perhitungan harga perang.
Tiga hari kemudian, La Mappanganro memimpin upacara penutup di pelabuhan. Nama-nama korban dibacakan satu per satu. Aji Laide berdiri di sampingnya, memegang panji yang separuh sobek.
"Hari ini kita akhiri rantai balas dendam," ucap La Mappanganro. "Mulai hari ini, kehormatan kita dijaga dengan hukum, bukan amuk."
Ia lalu menghadap para tetua dan ibu-ibu istana.
"Warisan Sawerigading dan La Galigo bukan hanya keberanian berperang. Warisan itu adalah kemampuan menanggung beban keputusan."
Di ujung upacara, ia memerintahkan satu hal terakhir: seluruh kisah perang, pelanggaran, dan perdamaian dicatat dalam lontara agar generasi berikutnya tidak mengulang buta.
Matahari tenggelam di ufuk barat. Angin laut tenang kembali. Kapal-kapal yang tersisa berangkat pulang satu per satu.
La Mappanganro menatap cakrawala dan berbisik, "Kita tidak mewarisi dunia yang utuh. Kita yang harus menutup lukanya."
Dengan itu, siklus besar dari garis Sawerigading menuju La Galigo, lalu ke La Mappanganro, ditutup dalam satu keputusan: perang berakhir, tatanan dipulihkan, dan kisahnya diserahkan pada ingatan.
TAMAT.