Episode 019: Istri Batara Guru
Pagi itu, Batara Guru terbangun dengan semangat baru. Setelah malam mimpinya yang penuh harapan, ia merasa kehadiran We Nyili' Timo-raja yang ditunggu-tunggu semakin dekat. Saat bersiap memasuki hari barunya, batinnya bergetar: "Kira-kira, seperti apakah rupa permaisuriku nanti?"
Di istana, Batara Guru mengumpulkan ketiga selirnya, La Cudai, La Tegaq, dan La Bulen. "Apa pendapat kalian tentang permaisuriku? Apakah dia akan cantik?" tanyanya penuh harap. Selir La Cudai menjawab, "Tuanku, kecantikan sejati datang dari hati. Namun, apakah tuanku tidak bisa menyatakan harapan ini kepada Patoto'e?"
Batara Guru mengangguk, "Aku tidak ingin dianggap tidak bersyukur dengan apa yang telah diberikan." Selir La Tegaq menegaskan, "Tapi, Tuanku, tidak ada salahnya berharap. Semua ini adalah bagian dari apa yang telah dijadwalkan."
Sementara itu, tangan-tangan lelaki yang menunggu di pinggir pantai bersiap menerima kedatangan utusan dari langit. Batara Guru berdiri tegang sebelum mengarahkan pandangannya ke laut. "Kira-kira, di manakah kamu, We Nyili' Timo?"
Tiba-tiba, buaya yang setia, menampakkan diri di tepi sungai. "Tuanku, sebelumnya aku pergi untuk melihat calon putri. Ternyata, banyak dari mereka yang tidak sesuai harapan." Mendengar ini, Batara Guru merasakan kepanikan melanda hatinya. "Mengapa bisa begitu?" Ia bertanya, suaranya bergetar.
"Sebagian besar terlihat aneh, ada yang sisik," jelas buaya. Batara Guru berusaha menenangkan dirinya, "Mungkin ini adalah ujianku. Tapi bagaimana jika We Nyili' Timo juga demikian?"
Setelah menyadari betapa menyedihkannya situasi itu, Batara Guru berkata, "Apapun yang akan terjadi, aku harus bersiap. Jika Patoto'e memilihnya, maka itu yang terbaik untukku." Usai pertemuan itu, Batara Guru kembali ke ruangan istananya, berdoa kepada Patoto'e agar membantunya menerima apapun yang akan datang.
Malam pun tiba, dan Batara Guru berpikir tentang kekuatan yang menyertainya. "Hari esok akan membawa jawabannya," gumamnya. Keesokan harinya, ia merasakan keinginan untuk segera pergi ke pantai. Saat tiba, dukungan dari selir-selirnya membuatnya tenang.
Di pinggir pantai, saat ombak mengalahkan berandalan, perlahan-lahan cahaya memancar dari laut. "Dia pasti datang!" teriak seorang pelayan. Batara Guru merasakan getaran harapan yang tak tertahan.
Tak lama kemudian, terlihatlah sisi keemasan dari sebuah usungan. Di depan mata, We Nyili' Timo muncul, sosok yang anggun dan menakjubkan. "Inilah kebahagiaan yang ditunggu-tunggu," bisiknya dalam hati. "Kecantikannya melampaui semua harapan."
Tatapan Batara Guru menemui wajah We Nyili' Timo yang cantik dan anggun, dan seirama hatinya bergetar. "Tuanku, dia adalah permaisuri yang tepat untukmu, sebagaimana ditentukan oleh Patoto'e," ujarnya.
Dengan tawa bahagia, Batara Guru menggandeng tangan We Nyili' Timo, menjadikan momen ini sebagai awal perjalanan baru. "Kita akan mengukir sejarah bersama," ungkapnya, penuh harap. Mereka berdua, dengan semua kemeriahan di belakangnya, melangkah menuju istana Ale Luwu, diiringi sorak sorai penuh sukacita.