Episode 089: La Mappanganro Yang Kini Menjadi Yatim Piatu

Story DNA

Genre
folk tale
Tone
melancholic
Themes
loss and grief, filial love, duty vs. personal desire, the burden of leadership
Plot Summary
La Mappanganro, estranged from his father, sails the seas, while his mother, Putri Tompo, deeply misses him. Upon hearing his mother is gravely ill, he rushes home, unaware she has already passed away. He arrives to a coronation, but his joy turns to profound grief when he learns of her death. Now king, La Mappanganro finds his new title meaningless without his mother's love, choosing to mourn her deeply, a newly crowned orphan consumed by sorrow.

Episode 089: La Mappanganro Yang Kini Menjadi Yatim Piatu

La Mappanganro berdiri di atas kapalnya di tengah laut, tatapannya kosong. Hari-hari berlalu, ketenangan yang diidamkannya kini hanya menyisakan kesunyian yang menyengsarakan. "Kenapa ayahku tak menganggapku lagi? Kenapa aku harus pergi tanpa pamit?" gumamnya pelan, sementara ombak berdebur keras di sisi kapalnya.

Di Pujaan Anting, Putri Tompo berjalan bolak-balik di dalam istana, wajahnya suram. "Mengapa anakku tak kembali? Ku harap dia dalam keadaan baik..." serunya dalam hati, matanya berkaca-kaca. Rindunya pada La Mappanganro menggerogoti hatinya, membuatnya sulit bernapas. "Jika La Mappanganro tidak kembali, aku tidak tahu apa yang akan terjadi," keluhnya pada We Aji, sahabatnya.

"Mungkin ada baiknya jika dia beradaptasi di tempat baru, Putri," jawab We Aji dengan nada mencoba menenangkan, walau ia pun merasakan kecemasan yang sama.

Namun, Putri Tompo tak bisa menahan air mata. "Kekhawatiran ini terlalu berat. Apa dia masih ingat janjinya untuk pulang?" Ia jatuh ke tempat duduk, lelah oleh emosinya.

Beberapa hari kemudian, kabar buruk menghampiri. La Mappanganro mendengar dari pengawal di kerajaan Aro Biring bahwa ibunya sakit keras. "Apa? Harus bagaimana aku pulang sekarang?!" teriaknya, bergegas melanjutkan perjalanan ke Pujaan Anting. Dalam perjalanan, hatinya berdebar; dia ingin memastikan ibunya baik-baik saja.

Di Pujaan Anting, pasukan telah bersiap memberi kabar, namun mereka terpaksa merahasiakan kematian Putri Tompo. "Kami akan membiarkan upacara pelantikan berjalan dahulu," bisik salah satu komandan.

Ketika La Mappanganro akhirnya tiba, sambutan hangat disertai haru menyelimuti seisi istana. "Selamat, La Mappanganro! Kini kau resmi menjadi raja!" seru We Aji dengan sukacita. Namun, La Mappanganro tak merasakan kebahagiaan itu. "Di mana ibuku?" tanyanya mendesak, wajahnya dipenuhi kebingungan.

Air mata menetes dari We Aji, dan seluruh hadirin turut merasakan kesedihan. "Maafkan kami, anakku. Ibumu telah pergi. Dia merindukanmu..." kata We Aji terbata, suaranya hampir tak terdengar.

La Mappanganro terdiam seketika. "Apa yang kau katakan? Dia pergi... untuk selamanya?" Rasa sakit menyepit dadanya. "Kenapa dia tidak sempat menunggu kepulanganku?" jeritnya. Air matanya mengalir tanpa bisa dicegah.

"Biarkan aku pergi ke kamarnya," pinta La Mappanganro dengan suara lembut penuh kepedihan. "Aku akan menghormatinya," tambahnya.

Selama tiga bulan ke depan, dia memilih untuk tinggal di kamar ibunya. "Aku akan mengenangnya setiap hari," katanya pada We Aji dan Top Palaguna. "Menyandang gelar raja tak berarti tanpa kasih yang dia berikan."

Rasa duka dan kehilangan menyatu di dalam hati La Mappanganro. Namun, baginya, harta dan takhta tak berarti jika ia harus menjadi yatim piatu. "Tuhan, berikan aku kekuatan untuk menjalani semua ini," harapnya dalam hati, menatap langit biru yang kini terasa kelabu.

Dengan demikian, hari-hari La Mappanganro sebagai raja baru dimulai, namun terpuruk dalam kenangan akan sosok ibu yang sangat dicintainya.

Tokoh dalam Episode Ini

La Mappanganro (protagonist) Putri Tompo (supporting) We Aji (supporting) Top Palaguna (minor)