Episode 091: Pintu Langit Dan Akhir Cerita La Galigo
Di kerajaan langit, suasana tegang menyelimuti ruang pertemuan. Datu Patoto'e duduk di kursi kebesarannya, wajahnya serius. Di sampingnya, We Nyili' Timo dan We Cudai mengawasi, khawatir dengan seringnya manusia berkunjung ke dunia mereka.
"Tuanku, manusia semakin berani! Mereka datang ke sini seolah ini tempat hiburan," We Nyili' Timo mengeluh.
"Dan para Dewa tampaknya tidak segan-segan turun ke bumi semaunya. Ini bisa menghancurkan keseimbangan yang telah lama kita jaga," We Cudai menambahkan dengan nada khawatir.
Dengan tatap mata penuh penyesalan, Datu Patoto'e mengangguk. "Jika ini dibiarkan, manusia akan menggantungkan hidup mereka pada kami. Mereka tidak akan berusaha menyelesaikan masalah mereka sendiri."
"Apakah kita tidak bisa melarang mereka?" tanya We Cudai ragu. "Mereka anak cucu kita."
"Tapi mereka juga harus belajar mandiri," jawab Datu Palinge' yang mendukung pendapat Datu Patoto'e. "Kita tidak bisa terus memanjakan mereka."
"Betul, Tutup saja pintu langit!" seru We Cudai, berapi-api. "Biarkan mereka hidup tanpa intervensi kita."
Datu Patoto'e tersenyum sinis. "Mungkin itu hal yang bijak. Sudah saatnya pintu langit ditutup. Kita harus menjadikan mereka belajar menghadapi dunia dengan segala sendiri."
"Jadi kapan kita akan melakukannya?" tanya We Nyili' Timo, berusaha memastikan keputusan tersebut.
"Pada saat purnama mendatang. Jika hingga saat itu ada Dewa yang masih turun ke bumi, mereka akan tinggal dengan manusia," tegas Datu Patoto'e.
"Kenapa tidak kita buat semua jadi baik? Kenapa memberikan pilihan untuk berbuat salah?" tanya We Cudai, bingung dengan keputusan tersebut.
"Karena manusia butuh ruang untuk berpikir. Kesalahan mengajarkan mereka lebih dari pelajaran yang bisa kami berikan," jawab sang Pak Tato dengan bijaksana. "Jika mereka melakukan kesalahan, maka mereka harus berani menyesal dan bertobat."
Dengan keputusan itu, rumah dan rukleng mengangguk, setuju. Pintu langit akan ditutup, dan Sawerigading beserta generasinya akan kehilangan kesaktiannya.
"Kita semua akan mengamati mereka dari jauh. Sebagai Dewa, kita tidak bertugas memanjakan, tapi mengawasi," kata Datu Patoto'e, menatap masa depan yang tak pasti.
Dengan rencana yang matang, mereka menyiapkan segalanya untuk purnama mendatang. Namun, di balik keputusan itu, kesedihan menggerayangi hati Datu Patoto'e. Bagaimana nasib anak cucunya dan apa yang akan terjadi selanjutnya?
Narasi berlanjut menyisakan pertanyaan mendalam saat mereka bersiap menutup babak sejarah ini, menanti hari purnama yang penuh harapan dan ketidakpastian.