Episode 106: Sampai Mati Tewasnya Aji Laide Dan La Mappanganro
Pertempuran belum berakhir, dan suasana di Pujananting kembali memanas setelah kemenangan melawan Dewa Lamakaraka. Namun, ketegangan segera muncul ketika Dewa Panyiwiryo, marah melihat perayaan kemenangan manusia, turun dari langit. "Merayakan kemenangan di hadapan dewa, kalian memang keterlaluan!" teriaknya, mengirimkan petir yang menggelegar di udara.
"Bertahan!" seru Ajila Ide, dengan cepat melindungi penduduk dan lingkungan sekitarnya. "Kita tidak akan mundur di hadapan kekuatan ini!" Serangan pertama Panyiwiryo meluluhlantakkan beberapa rumah, mengakibatkan kepanikan di kalangan warga.
"Ini lebih dari sekadar pertempuran! Aku harus menghentikannya!" ujar Ajila dengan suara penuh tekad. "Jangan dekat-dekat! Ini akan berbahaya!" La Mappanganro berusaha membantu tetapi dihalangi oleh Ajila. "Kau tidak mengerti betapa kuatnya dewa ini. Hanya aku yang bisa melawannya!"
Kedua belah pihak bersiap untuk menyerang. "Serangan ini akan menentukan segalanya!" Ajila menggertakkan gigi. Dengan kekuatan penuh, dia mengumpulkan energinya dan melepaskan serangan balik. Sebuah awan petir muncul, mengeluarkan cahaya menyilaukan. "Kau akan merasakan kekuatanku!" serunya dengan semangat membara.
Petir dan angin beradu, menciptakan bencana di sekelilingnya. Ajila dan Panyiwiryo bertarung tanpa ampun, butir-butir keringat mulai membasahi dahi Ajila. "Aku tidak akan kalah! Untuk semua yang kita cintai!" dia meneriakkan semangat yang tersisa.
Namun, di tengah pertarungan, Ajila merasakan kelelahan mendalam. "Tak ada jalan lain, aku harus menggunakan semua tenagaku!" Panyiwiryo pun siap menurunkan serangan pamungkasnya. "Siapa yang akan tersisa setelah pertempuran ini?" Satu serangan dasyat mengarah kepada Ajila.
Dengan sekuat tenaga, Ajila melawan. "Jangan menyerah!" teriak La Mappanganro, bersimpati melihat saudaranya berjuang. "Kami bersamamu, Ajila!" Namun, meski berulangkali memblokir serangan, Ajila terlempar jauh, membuatnya terjengkang.
Kedua pejuang terhuyung-huyung. Lapangan menjadi hancur semrawut. "Kita semua sudah berkorban, jangan biarkan korban meminta perhatian kita!" teriak Ajila dalam kebingungan. "Kita tidak akan membiarkan ini berakhir di sini!"
Dan tiba-tiba, sebuah kilatan cahaya datang dari Ajila, menggapai langit dengan energi yang dahsyat. "Dengan kekuatan hidupku, aku akan tujuan ini!" Ajila mengeluarkan serangan yang langsung menuju Panyiwiryo. "Haaa!"
Bum! Serangan itu langsung menghantam Dewa tersebut. Semua mata terbelalak saat Panyiwiryo tampak goyah. Namun, tenaga Ajila pun tergerus habis. Dalam pelukan La Mappanganro, Ajila terjatuh, lemas. Keduanya tersenyum walau penuh luka, menyaksikan kejatuhan Dewa Panyiwiryo.
"Aku berhasil…" bisik Ajila, sebelum pingsan di pelukan saudaranya. Namun, tanpa diduga, muncul Dewa lain, Guru Tempedding, bersama pasukan tangguhnya. "Kalian harus menghadapi kami sekarang!" teriaknya.
Melihat kedatangan musuh baru, Ajila berusaha berdiri meski kondisi masih lemah. "Tak akan kubiarkan kalian mengambil alih!" teriaknya. Perang yang lebih besar di depan mata. "Baiklah, aku tidak peduli jika aku mati!"
La Mappanganro menatap Ajila yang berjuang berdiri. "Mari kita bertarung bersama! Tidak ada jalan mundur!" Pertempuran berikutnya akan membawa tantangan yang lebih berat, satu pertarungan yang akan menentukan nasib mereka selamanya.