Episode 001: Batara Guru Raja Luwu Pertama

Story DNA

Genre
legend
Tone
solemn
Themes
leadership and responsibility, adaptation and transformation, destiny vs. free will, love and partnership
Plot Summary
Batara Guru, a lonely sky deity undergoing a trial on Earth, is guided by a talking crocodile to the underwater kingdom to meet his destined consort, We Nyili' Timo. After a brief but meaningful encounter where they agree to unite, Batara Guru returns to find a magnificent palace and infrastructure have descended from the sky, signifying his new role as king. He begins to establish his reign, planning for his kingdom's future and anticipating his queen's arrival, embracing his transformation into the first human ruler of Luwu under the watchful eyes of his divine parents.

Episode 001: Batara Guru Raja Luwu Pertama

Batara Guru telah menjalani tujuh hari sebagai manusia di hamparan Bumi yang baru bernyawa; ia masih memikul rindu pada Langit, keletihan dari perubahan wujud, dan kesepian yang tajam. Singkat: keputusan Datu Patoto'e menguji Batara Guru agar menaklukkan Bumi dengan kekuatan dan kecerdasan sendiri - tanpa bantuan para saudara atau penjaga langit. Kini cerita berlanjut: ujian itu memberi buah pertama-pertemuan, pengangkatan bawahan, dan kelahiran Istana di Ale Luwu-yang memaksa Batara Guru memilih bagaimana ia akan memerintah, mencintai, dan mempercayai.

Subuh di hari kedelapan, Batara Guru membuka mata dengan lapar yang nyata. Ia bangkit dari bilah bambu tempat tidurnya, meraba perutnya yang kosong, lalu berjalan ke sungai untuk minum. Di tepian, seekor buaya berpakaian kuning menyongsongnya tanpa rasa takut, menatap dalam seperti tahu beban yang menekan jiwa Batara Guru.

"Tuanku," suara buaya itu lembut, "hatimu resah. Kau rindu suara Langit dan ingin pasangan. Jika kau mau, aku dapat mengantarmu ke istana Pertiwi."

Batara Guru menoleh, kaget namun juga lega. "Kau tahu isi hatiku?" tanyanya, hampir tak percaya.

"Aku penjaga sungai. Aku tak hanya menjaga arus-aku dengar bisik-bisik hati mereka yang belum menikah," jawab buaya. "Tapi pikirkan tugasmu di Bumi. Siapa yang akan menjaga lahan-lahan ini jika kau pergi?"

Batara Guru menghela napas panjang. "Benar. Aku tak boleh meninggalkan tugas. Namun aku ingin melihat calon permaisuriku-ingin tahu rupa dan tabiatnya. Kalau tidak, bagaimana aku yakin?"

Buaya mengangguk, seolah sudah menebak keraguannya. "Jika engkau berkenan, aku akan mengantarmu sekejap. Aku pun bisa menggantikan tugasmu sementara di sini. Datu Patoto'e telah menetapkan-apa yang turun adalah yang terbaik."

Batara Guru menatap langit, lalu memandang hamparan hutan yang mulai mereka tata. Kesendirian menekan dada, tetapi ada suara tanggung jawab yang lebih besar. "Baik," katanya akhirnya. "Antarkan aku. Tetapi aku kembali cepat - tugas menunggu."

Dengan satu sentakan, Batara Guru menaiki punggung buaya. Sekejap kemudian mereka meluncur melintasi permukaan air, melesat ke kedalaman yang menuju Istana Pertiwi. Ketika mereka menyelam, Batara Guru melihat dunia bawah laut yang belum pernah ia hayati: terumbu berkilau, gerombolan ikan, dan bangunan-bangunan bercahaya yang menyambut kedatangan mereka.

Di pelataran istana, seorang perempuan tampak seperti sinar yang menepi: We Nyili' Timo, putri sulung Sinauk Toja dan Guru Riselek. Kehadirannya membuat deretan selir dan pengiring terdiam; parasnya memadukan keagungan Langit dengan keelokan Pertiwi - kecantikan yang meluluhkan bahkan hati yang keras.

"Tuanku-" bisik seorang dayang, lalu tersengal ketika Batara Guru turun dari punggung buaya dan berdiri basah di pasir. Ia berjalan, tapi ombak menolak; tiga kali utusan mencoba menjemput sang putri, tiga kali mereka terhempas. Akhirnya Batara Guru melangkah sendiri, menantang arus, dan seperti dibuka jalan khusus, ombak membiarkannya lewat sampai usungan keemasan yang mengapung mendekat.

We Nyili' Timo menunduk malu, tangan kanannya menutup muka sejenak. Batara Guru, basah kuyup namun tegap, menundukkan kepala hormat. "Aku datang atas kehendak Patoto'e," katanya tegas namun lembut. "Untuk menjemputmu sebagai permaisuriku, jika kau sudi."

We Nyili' Timo mengangkat kepala, matanya memancarkan kecermatan, bukan hanya malu. "Tuan Batara Guru," suaranya mengalun, "aku disuruh turun oleh ibu dan guru ku, tetapi aku juga punya takut. Apakah kau akan menerima aku yang lahir dari laut ini, yang wajah dan adatnya berbeda?"

Batara Guru tersenyum, hatinya tercekat oleh kejujuran itu. "Aku manusia sekarang. Perbedaanku pun besar. Jika permaisuri yang ditakdirkan berdiri di hadapanku, aku tak akan memilih karena wajah, melainkan karena kesediaannya menapaki kehidupan di Bumi ini bersama aku."

Sinauk Toja maju, merangkul anaknya pelan. "Anakku," ujarnya pada We Nyili' Timo, "ini kehendak Datu Patoto'e. Jadi berdirilah sebagai permaisuri Batara Guru. Jangan takut; di sini kau akan dihormati."

Guru Riselek menambahkan, nada suaranya halus tapi penuh perhitungan, "Kami titip anak kami kepadamu, Batara Guru. Jagalah ia-bukan hanya sebagai istri, tetapi sebagai mitra. Dunia menonton bagaimana seorang raja memelihara hatinya sendiri."

Di sisi lain, di bawah ombak yang tenang, Buaya pengantar berdiri tegap, menatap Batara Guru. "Tuan, aku telah menepati janji. Kini kau harus kembali agar tugasmu di darat tidak terlantar."

Batara Guru menunduk sejenak kepada We Nyili' Timo, melihat bayang-bayang masa depan yang mungkin manis, mungkin getir. "Nanti malam atau kapan pun yang diatur Patoto'e, nanti kita kan bersatu di Ale Luwu. Sekarang aku harus kembali. Bumi menunggu kerja yang harus kuselesaikan."

We Nyili' Timo menatapnya, lalu berkata perlahan, "Aku akan datang ketika waktunya tiba. Aku akan belajar hidup di darat, jika itu kehendak Patoto'e dan hatimu."

Kembalinya Batara Guru ke Ale Luwu berlangsung dalam sorak pengikut yang kagum. Malam itu bumi bergemuruh-sebuah getar besar yang bukan ledakan melainkan pengakuan: Istana Wawa Undruk turun, gelanggang Langit Eleng Parek Pake muncul, dan ribuan pengawal serta dayang diturunkan ikut menyusun tatanan baru. Batara Guru terbangun keesokan paginya terkejut melihat apa yang kini menjulang di dahulu hamparan liar: Istana Manurung berdiri megah, tangga-tangga marmar menuju gerbangnya, dan barisan dayang menunggu untuk menaburkan beras warna-warni.

La Oro Keling, bawahan pertama yang ditetapkan Datu Patoto'e dan yang sudah lama bekerja di lahan, berdiri di samping Batara Guru. Ia masih memegang kapaknya dan menatap keberhasilan tengah malam itu dengan mata berbinar. "Tuanku, lahan itu siap ditanami," lapor Oro. "Engkau hebat-sekali kapak, hutan menjadi ladang."

Batara Guru menghadap para hadirin, menyadari deretan tugas yang menunggu-mengatur irigasi, memberi perintah, menetapkan hukum pertama di Ale Luwu. Di dadanya, rindu pada Langit berbaur dengan tanggung jawab baru: memilih pembantu yang setia, membina lahan agar tak lapar rakyatnya, dan menanti datangnya We Nyili' Timo sebagai permaisuri yang akan meneguhkan garis keturunannya.

Saat upacara penyambutan dimulai, Welong Pabarek, salah seorang pengawal tinggi, berteriak agar semua dipersiapkan. "Siapkan arena! Siapkan pasukan! Raja kita kembali!" serunya. Dayang-dayang menaburkan beras, bunyi gamelan kecil mengiringi langkah Batara Guru menuju tikar emasnya. Ia duduk, menerima makanan yang dihidangkan, namun pandangannya sering melayang ke laut-ke tempat usungan keemasan yang baru saja menyingkapkan permaisuri.

Di bawah punggung istana, La Oro tetap sibuk memindahkan kayu-kayu sisa tebasan. Ia menoleh pada tuannya. "Tuanku, apakah kita akan menyiapkan tanah untuk palawija atau gandum? Jika kau mau, aku dapat mengatur pengairan pertama."

Batara Guru menyentuh dagunya, memikirkan masa depan. "Mulailah dengan jagung dan gandum," jawabnya singkat. "Kita butuh makanan cepat dan biji untuk musim depan. Pasang tanda di barat, tata parit, dan panggil para penjaga sungai." Ia mengangkat pandang ke arah laut, di mana bayang-bayang We Nyili' Timo masih samar. "Nanti, ketika ia benar-benar datang, kita akan bangun rumah yang tak hanya megah, tetapi berguna bagi rakyat."

Di langit, jauh dari pandangan manusia, Datu Patoto'e dan Datu Palinge' berdiri bersama, mata mereka menatap Bumi yang kini berdenyut dengan struktur manusiawi. Patoto'e, dengan nada tegas namun lembut, mengatakan pada istrinya, "Inilah ujian anak kita. Biarkan ia bertumbuh sebagai manusia; cinta dan kekuasaan harus ditempa di sini."

Datu Palinge' menahan air mata namun mengangguk. "Jika demikian, kita serahkan kepada takdirnya. Tetapi awasi dia, agar tidak terjerumus oleh kesombongan-meski kini ia menawan, manusia mudah lupa."

Di Ale Luwu, malam berangsur menutup, tetapi tidak ada yang tenang sepenuhnya. Batara Guru tahu bahwa gelombang besar tugas menantinya: membina lahan, mengatur pasukan, dan menyiapkan diri menyambut permaisuri yang sudah menorehkan kesan pertama. Di dalam kamarnya yang terbuat dari bambu, ia menatap kapak yang tersandar, menutup mata sejenak, dan berbisik pada dirinya sendiri:

"Aku adalah manusia sekarang. Aku akan menjaga Bumi. Tetapi aku tak akan menyerahkan hatiku begitu saja - ia harus tumbuh bersama kerajaan ini."

Dialog-dialog bergema sepanjang hari itu-antara Batara Guru dan Buaya, Batara Guru dan We Nyili' Timo, Batara Guru dan Oro, serta petuah dari Sinauk Toja dan Guru Riselek-mencipta pilihan-pilihan yang harus segera diambil: apakah Batara Guru akan memusatkan kekuasaan pada kekuatan fisik, atau membangun legitimasi melalui kasih sayang dan kebijakan; apakah ia akan menerima titipan Langit tanpa syarat, atau menuntut janji dan tanggung jawab dari mereka yang menjadi bagian dari kerajaannya. Keputusan pertama telah diambil-ia menolak tinggal di Langit dan memilih menjalani ujian-namun ribuan keputusan kecil kini menuntut jawaban yang akan menentukan nasib Ale Luwu dan garis keturunannya.

Malam menutup episode dengan gema tawa para dayang yang menata kelangkapan upacara, suara bunyi-bunyian, dan langkah-langkah prajurit yang berjaga. Batara Guru menaruh harapnya pada satu hal: bahwa ketika We Nyili' Timo benar-benar hadir di pelataran istananya sebagai permaisuri, ia akan menemukan bukan hanya pasangan tapi mitra yang mampu berjalan bersamanya menapaki nasib Bumi yang rapuh ini. Di dalam hatinya mengendap juga ketegasan baru-ia tak lagi hanya anak Datu Patoto'e; ia kini raja pertama di Luwu, dan setiap pilihannya akan memahat sejarah manusia di bawah langit.

Tokoh dalam Episode Ini

Batara Guru (protagonist) The Buaya (Crocodile) (supporting) We Nyili' Timo (supporting) Datu Patoto'e (minor) Sinauk Toja (minor) Guru Riselek (minor) La Oro Keling (supporting) Welong Pabarek (minor)